Prinsip Pengembangan Pembelajaran
Oleh :
H.Abdul Hamid,S,Ag M.M.Pd
Widyaiswara Ahli Madya IV/b
A. Latar Belakang
Pembelajaran terjemahan dari bahasa inggris “instuction”, terdiri dari dua kegiatan utama yaitu: a) Belajar (learning) dan b) mengajar (teaching), kemudian disatukan dalam satu aktivitas, yaitu kegiatan belajar-mengajar yang selanjutnya populer dengan istilah Pembelajaran (instuction). Dengan demikian, untuk memahami hakikat pembelajaran, maka terlebih dahulu harus memahami setiap bagian, yaitu hakikat belajar dan mengajar.
Pengajaran merupakan perpaduan dari dua aktifitas, yaituu: aktifitas mengajar dan aktifitas belajar. Aktifitas mengajar menyangkut peranan seorang guru dalam konteks mengupayakan terciptanya jalinan komunikasi harmonis antara mengajar itu sendiri dengan belajar. Jalinan komunikasi yang harmonis inilah yang menjadi indikator suatu aktifitas proses pengajaran itu akan beijalan dengan baik.
Suatu pengajaran akan bisa disebut berjalan dan berhasio secara baik, manakala ia mampu mengubah diri peserta didik dalam arti yang luas serta mampu menumbuh kembangkan kesadaran peserta didik untuk belajar, sehingga pengalaman yang diperoleh peserta didik selama ia terlibat didalam proses pengajaran itu, dapat dirasakan manfa’ataya secara langsung bayyi perkembangan pribadinya.
Kunci pokok pengajaran itu ada pada seorang guru (pengajar). Tetapi ini bukan berarti dalam proses pengajaran hanya guru yang aktif, sedang peserta didik pasif. Pengajaran menuntut keaktifan kedua pihak yang sama-sama menjadi subjek pengajaran.
Dari beberapa sumber yang membahas mengenai pembelajaran, terdapat beberapa kesamaan substansi tentang belajar, yaitu pada dasarnya adalah perubahan perilaku (pengetahuan, sikap, keterampilan) sebagai hasil interaksi antar siswa dengan lingkungan pembelajaran. Dari pengertian tersebut mempunyai dua unsur penting yang menjelaskan tentang belajar yaitu: 1) perubahan perilaku, dan 2) hasil interaksi. Dengan dua indikator tersebut dapat disimpulkan, bahwa seseorang yang telah belajar pasti harus ditandai adanya perubahan perilaku, jika tidak maka belum terjadi belajar. Selanjutnya bahwa perubahan yang terjadi itu, harus melalui suatu proses, yaitu interaksi yang direncanakan antar siswa dengan lingkungan pembelajaran untuk terjadinya kegiatan pembelajaran, jika tidak maka perubahan tersebut bukan hasil belajar. Oleh karena itu, perubahan perilaku pada siswa dapat dibedakan dari dua segi: pertama perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran, dan kedua perubahan perilaku yang bukan hasil dari pembelajaran. Adapun yang harus dilakukan oleh setiap tenaga kependidikan, bahwa perubahan perilaku pada setiap peserta didik/siswa tentu saja adalah perubahan perilaku hasil pembelajaran.
B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Pengajaran
Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses mengajar. Kalau belajar dikatakan milik siswa maka mengajar sebagai kegiatan guru. Disamping itu ada beberapa definisi lain, yang dirumuskan secara rinci dan nampak bertingkat.
Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan pada anak didik. Menurut pengertian ini berarti tujuan belajar dari siswa itu hanya sekedar ingin mendapatkan atau menguasai pengetahhuan sebagai konsekuensi pengertian semacam ini dapat membuat suatu kecenderungan anak menjadi pasif, karena hanya menerima informasi atau pengetahuan yang diberikan oleh gurunya. Sehingga pengajarannya bersifat teacher centered, jadi gurulah yang memegang posisi kunci dalam proses belajar mengajar dikelas. Guru menyampaikan pengetahuan agar anak didik mengetahui tentang pengetahuan yang disampaikan oleh guru. Oleh karena itu, pengajaran seperti ini ada juga yang menyebutnya dengan pengajaran yang intelektualistis.1
Kelanjutan dari pengertian mengajar seperti diatas, adalah menanamkan pengetahuan itu kepada anak didik dengansuatu harapan terjadi proses pemahaman. Dalam proses inipula siswa/anak didik mengenal dan menguasai budaya bangsa untuk kemudian dapat memperkayakan,hal ini berarti berangkat dari intelektualnya, siswa dapat menciptakan sesuatu yanng baru.
Kemudian pengertian yang luas, mengajar diartikan sebagai suatu aktifrtas mengorganisasi atau mengatur lingkunngan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadi proses belajar atau dikatakan mengajar sebaai upaya menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa. Kondisi itu diciptakan sedemikian rupa sehingga membantu perkembangan anak secara optimal baik jasmani maupun rohani, bail fisik maupun mental. Pengertian mengajar seperti ini memberikan petunjuk bahwa fungsi pokok dalam mengajar itu adalah menyediakan kondisi yang kondusif, sedang yang berperan aktif dan banyak melakukan kegiatan adalah siswanya, dalam upaya menemukan dan memecahkan masalah.
Suatu proses belajar mengajar dikatakan baik, bila proses tersebut dapat membangkitkan kegiatan belajar yang efektif. Dalam hal ini perlu disadari, masalah yang menentukan bukan metode atau prosedur yang digunakan dalam pengajaran, bukan kolot atau modern nya pengajaran, bukan pula konvensional atau progresifnya pengajaran. Semua itu mungkin penting artinya. Tetapi tidak merupakan pertimbangan akhir. Karena itu, hanya berkaitan dengan “alat” bukan “tujuan” pengajaran. Bagi pengukuran suksesnya pengajaran,memanng syarat utama adalah “hasilnya”, tetapi harus diingat bahwa dalam menilai atau menerjemahkan “hasil” itu pun harus secara cermat dan cepat, yaitu dengan memperhatikan bagaimana “prosesnya”, dalam proses inilah siswa akan beraktivitas. Dengan proses yang tidak baik, mungkin hasil yng dicapainya pun tidak akan baik, atau kalau boleh dikatakan hasil itu adalah hasil semu.
Kebanyakan ahli pendidikan/pengajaran mengatakan bahwa pengajaran adalah terjemahan dari intruction atau teaching. Tetapi, menurut Arif S. Sadirman, ia kurang sependapat dengan padanan yang demikian. Menurutnya hal itu kurang tepat karena kurang mencerminkan padanan/terjemahan secara lebih pas. Intruction mencakup semua event yang mungkin mempunyai pengaruh langsung kepada proses belajar manusia dan bukan saja terbatas pada event (peristiwa-peristiwa) yang dilakukan oleh guru/dosen/instruktur. Intruction itu meliputi pula kejadian-kejadian yang diturunkan oleh bahan cetakan, gambar, program televisi, film, slide, kaset audio atau kombinasinya.
Pengajaran hanyalah salah satu bentuk instruction. Dan, pengajaran sering dikondisikan sebagai proses aktivitas belajar mengajar di kelas pengajaran yang tentunya bersifat formal. Kelas pengajaran, jangan hanya diartikan sebagai terbatas oleh ruangan dengan ukuran tertentu yang permanen untuk berlangsungnya belajar mengajar. Pengertian kelas harus dikonotasikan sebagai suatu sistem yang bukan saja berupa ruangan atau bagian dari bangunan sekolah. Kelas merupakan tempat atau wadah berlangsungnya pengajaran (belajar mengajar) baik didalam ruangan yang biasa dipakai, dilaboratorium, dilapangan, dan sebagainya.
Adapun instruction tidaklah terbatas pada kelas-kelas formal, tetapi juga kegiatan belajar yang sifatnya nonformal dan tidak menuntut (tidak harus) adanya dosen/guru/instruktur secara fisik. Titik perhatian dalam instruction adalah bagaimana mengeloa lingkungan agar teijadi tindak belajar pada seseorang (sejumlah orang)secara efektif dan efisien. Karena itulah,padanan kata instruction yang lebih tepat adalah pembelajaran. Fungsi pembelajaran itu bukan saja fungsi guru/dosen/instruktur melainkan juga fungsi belajar lainnya.2
Pengajaran bisa disebut instruction dan pengajaran juga sebagai subset pendidikan. Pengajaran merupakan totalitas aktifitas belajar mengajar yang diawali dengan perencanaan dan diakhiri dengan evaluasi. Dari evaluasi ini diteruskan dengan follow up.
2. Prinsip-prinsip pengajaran
Prinsip-prinsip pengajaran yang dibahas daam bab ibi sanagt berkaitan dengan segala komponen pengajaran, baik yang menyangkut apa dan bagaimana peran guru dalam pengajaran, kearah mana sebenarnya pengajaran harus diaksanakan, maupun menyangkut apa, mengapa, dan bagaimana supaya peserta didik dapat terlibat aktif dalam pengajaran. Adapun prinsip-prinsip pengajaran itu meliputi:
1. Prinsip aktivitas
2. Prinsip motivasi
3. Prinsip individualitas
4. Prinsip lingkungan
5. Prinsip konsentrasi
6. Prinsip kebebasan
7. Prinsip peragaan
8. Prinsip kerja sama dan persaingan
9. Prinsip apersepsi
10. Prinsip korelasi
11. Prinsip efisiensi dan efektivitas
12. Prinsip globalitas
13. Prinsip permainan dan hiburan.
14. Prinsip Pengulangan
3. Prinsip Aktivitas
Kecenderungan psikologi saat inimenyatakan bahwa anak adalah makhluk yang aktif. Anak memiliki dorongan untuk melakukan sesuatu, memiliki kemauan, dan keinginan. Belajar pada hakikatnya adalah proses aktif dimana seseorang melakukan kegiatan secara sadar untuk mengubah suatu prilaku, terjadi kegiatan merespon terhadap setiap pembelajaran. Seseorang yang belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain. Belajar hanya akan mungkin terjadi anak aktif mengalami sendiri.
Dalam proses pembelajaran, siswa harus aktif belajar dan guru hanyalah membimbing dan mengarahkan. Teori kognitif menyatakan bahwa belajar menunjukkan adanya jiwa yang aktif, jiwa tidak sekedar merespon informasi. Namun jiwa mengolah dan melakukan transformasi informasi yang diterima.
Untuk memajukan keaktifan jiwa peserta didik, guru perlu:
- Mengajukan pertanyaan dan membimbing diskusi peserta didik.
- Memberikan tugas-tugas untuk memecahkan masalah-masalah, menganaisis, mengambil keputusan, dan sebagainya.
- Menyelenggarakan berbagai percobaan dengan menyimpukan keterangan, memberikan pendapat, dan sebagainya.3 Dan untuk membangkitkan keaktifan jasmani, maka guru perlu:
-Menyelenggarakan berbagai bentuk pekeijaan keterampilan di bengkel, laboratorium, dan sebagainya.
- Mengadakan pameran, karyawisata, dan sebagainya.
4. Prinsip Perhatian dan Motivasi
Walker (1967) dalam bukunya conditioning and instrumental learning mengatakan: “perubahan-perubahan yang dipelajari biasanya memberi hasil yang baik bilamana orang/individu mempunyai motivasi untuk melakukannya, dan latihan kadang-kadang menghasilkan perubahan-perubahan daam motivasi yang mengakibatkan perubahan-perubahan dallam prestasi.” Akan tetapi perubahan- perubahan demikian menurut Walker bukan hasil belajar, perubahan itu adalah akibat pengalaman, yang disebabkan motivasi.
Maksud Walker kiranya dapat difahami, bahwa suatu aktifitas belajar sangat lekat dengan motivasi. Perubahan suatu motivasii akan mengubah pola wujud, bentuk, dan hasil belajar. Ada tidaknya motiasi seorang individu untuk belajar sangat berpengaruh dalam proses aktivitas belajar itu sendiri.
Motivasi (motivate-motivation) banyak digunakkan dalam berbagai bidang dan situasi. Dalam bahasan ini, motivasi dimaksudkan untuk bidang pendidikan khususnya untuk kegiatan pengajaran.
Motivasi berhubungan erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat lebih tinggi pada suatu pelajaran cenderug memiliki perhatian yang lebih terhadap mata pelajaran tersebut sehingga akan menimbulkan motivasi yang lebih tinggi dalam belajar.
Perhatian dalam proses pembelajaran memiliki peranan yang sangat penting sebagai langkah awal dalam memicu aktivitas-aktivitas belajar. Perhatian adalah memusatkan pikiran dan perasaan emosional secara fisik dan psikis terhadap sesuatu yang menjadi pusat perhatiannya. Perhatian dapat muncul secara spontan, dapat juga muncul karena direncanakan.4
Sering ditemui, beberapa kesukaran yang dialami seorang guru untuk memotivasi peserta didiknya, misalnya:
1) Realitas bahwa guru belum memahami sepenuhnya akann motif,
2) Motif itu sendiri bersifat perseorangan. Kenyataan menunjukkan bahwa dua orang atau lebih melakukan kegiatan yang sama dengan motif yang berbeda, bahkan bertentangan bila ditinjau dari segi nilainya.
3) Tidak ada alat, metode, atau teknik tertentu yang dapat memotivasi peserta didik dengan cara yang sama atau dengan hasil yang sama.5
5. Prinsip Individual
Perbedaan individual dalam belajar, yaitu proses belajar yang terjadi pada setiap individu berbeda satu dengan yang llain, baik secara fisik maupun psikis. Untuk itu dalam proses pembelajaran mengandung implikasi bahwa setiap siswa harus dibantu untuk memahami kekuatan dan kelemahan dirinya, dan selanjutnya mendapat perlakuan dan pelayanan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa itu sendiri. Untuk dapat memberikan bantuan belajar terhadap siswa, maka guru harus dapat memahami dengan benar ciri-ciri para siswanya, baik dalam menyiapkan dan menyajikan pelajaran maupun dalam memberikan tugas-tugas dan bimbingan belajar terhadap siswa tersebut.
Adanya perbedan-perbedaan pada setiap peserta didik dalam satu kelas pengajaran, maka ada baiknya jika dalam kelas itu ada diferensiasi, supaya pelajaran diselesaikan dengan keadaan masing- masing peserta didik. Diferensiasi ini tidak meliputi seluruh bidang studi, tetapi pada bidang studi yang dirasa penting, yang menuntut untuk itu. Dalam hal ini kelas pengajaran dikelompokkan menurut kepandaiannya (kelompok pandai, sedang, kurang pandai) dan masing- masing kelompok diberikan tugas yang berbeda-beda. Jadi, diferensiasi ini merupakan kombinasi antara klasikal dan sistem individual.
6. Prinsip Lingkungan
Pembawaan yang potensial dari invidu itu tidak spesifik melainkan bersifat umum dan dapat berkembang menjadi bermacam-macam kenyataan hasil interaksi dengan lingkungannya. Pembawan menetukan batas-batas kemungkinan yang dapat docapai oleh individu, tetapi lingkingan menentukan menjadi invidu daam kenyataan.
PENUTUP
Simpulan
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat pengalaman dan latihan. Tanpa pengalaman dan latihan sangat sedikit proses belajar dapat berlangsung. Pengalaman adalah suatu interaksi antara individu dengan lingkungan pengamatannya, dalam interaksi itulah individu belajar, ia memperoleh pengertian, sikap, keterampilan, dan sebagainya. Mengajar adalah membimbing peserta didik belajar, maka guru mestimengatur lingkungan sebaik-baiknya sehingga tercipta lingkungan sebagai komponen pengajaran yang penting kedudkannya secara baik dan memenuhi syarat.
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada diluar individu. Adapun lingkungan pengajaran merupakan segala apa yang bisa mendukung pengajaran itu sendiri yang dapat difungsikan sebagai “sumber pengajaran” atau “sumber belajar”. Bukan hanya guru dan buku/bahan pelajaran yang menjadi sumber belajar. Apa yang dipelajari peserta didik tidak hanya terbatas pada apa yang disampaikan guru dan apa yang ada dalam tekt book. Banyak hal yang dapat dipelajari dan dijadikan sumber belajar peserta didik. Pengajaran yang tidak menghiraukan prinsip lingkungan akan mengakibatkan peserta didik tidak mampu beradaptasi dengan kehidupan tempat ia hidup.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Diman Drs Mudjiono. Melajar dan Pembelajaran, (Jakarta: 2013)
Drs Rohani A hmad HM, M.Pd, pengelolaan pengajaran, (Jakarta, Rineka cipta 2010)
Perpustakaan Nasional RI, pengelolaan pengajaran, (Jakarta, Rineka Cipta, 2010) Sardiman A.M, Interaksi dan motivasi belajar mengajar, (Jakarta, 1987, PT Raja Grafindo Persada)
Tim Pengembang MKDP Curikulum dan Pembelajaran, (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2011)
Editor / Redaktur : jain