Diunggah tanggal 08-09-2016 07:37:36 WITA

Beragama dengan Cinta



Oleh:

Ahmad Barjie B

Mahasiswa Prodi Akhlak dan Tasawuf Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin

 

Pembunuhan atau percobaan pembunuhan imam masjid, pastor dan pendeta, siapa pun pelakunya pastilah orang beragama. Begitu juga pembakaran tempat ibadah, konflik intern dan antarumat beragama, pengusiran umat beragama dan berbagai bentuk penistaan agama, pasti pula dilakukan orang-orang beragama.

Tetapi agama yang dianut dan dipahaminya diwarnai fanatisme buta, eksklusivisme, klaim kebenaran, bahkan diselimuti kebencian. Benci inilah emosi negatif paling berbahaya, sehingga dalam ranah apa pun akan melahirkan anarkisme, konflik, pertikaian dan permusuhan. Benci membunuh akal sehat, menenggelamkan keluhuran dan kemuliaan manusia dan ajaran agama yang dianutnya.

Lawan benci adalah cinta dan kasih sayang. Kalau semua umat beragama memiliki rasa cinta kasih dalam dirinya, ia tidak akan menyakiti orang lain, secara fisik maupun nonfisik, baik dengan sesama penganut agama, terlebih pemeluk agama yang berbeda.

Rasa cinta yang menguasai diri, menjadikannya makhluk yang menyintai semua manusia bahkan makhluk bernyawa seluruhnya. Ia tidak lagi melihat manusia dari sudut pandang berbeda, karena perbedaan agama, ras, bangsa dan budaya, semua itu keniscayaan ciptaan Tuhan.

Tuhan mencipta makhlukNya semua dilandasi cinta. Melalui titisan cinta Tuhan, binatang yang sedikit punya akal pun dengan penuh kasih sayang menyusui dan merawat anaknya, dan dengan hati-hati berpijak agar tidak terinjak anaknya. Meskipun anak-anak yang disusuinya itu menguruskan badannya, menyedot tenaganya dan sering merebut makanannya.

 

Ruang Cinta

Tokoh sufi wanita (shufiyah) Rabiah al-Adawiyah suatu kali ditanya oleh Imam Sofyan al-Sauri, apakah dalam dirinya ada rasa benci, misalnya kepada iblis, setan, pelaku maksiat dan orang yang berbeda agama. Al-Adawiyah yang terkenal dengan konsep tasawuf hub/mahabbah atau cinta, tidak ragu menjawab: “Dalam diriku tidak ada lagi ruang untuk membenci apa dan siapa pun. Dalam diriku hanya ada cinta, cinta yang tulus dan optimal, kepada Allah dan semua makhluk-Nya”.

Dilandasi rasa cinta ini pula al-Adawiyah tidak pamrih dalam beribadah. “Kalau ibadahku hanya karena ingin masuk surga, atau ingin terjauh dari neraka, biarlah aku dijauhkan dari surga dan dilempar ke neraka. Apa yang kulakukan hanya karena aku menyintai Tuhanku dengan tulus”, begitu pendiriannya.

Rasa cinta begini jika kita tarik ke ranah agama, sesungguhnya sangat ampuh untuk mengantipasi terjadinya konflik bernuansa agama, yang berwujud anarkisme, penghancuran, pembakaran dan apalagi pembunuhan. Rasa cinta akan mengantar kita dalam memandang sesama makhluk beragama penuh dengan pandangan kasih sayang. Tak ada rasa curiga, sirik, benci dan dendam sedikit pun.

Rasa cinta beginilah yang dulu telah diteladankan oleh Nabi Muhammad saw. Beliau tidak hidup dalam keluarga dan masyarakat yang homogen, tetapi serba heterogen. Ada paman dan keluarganya yang masih musyrik, paganis, menganut agama Nabi Ibrahim, Nasrani, ada tetangganya Yahudi dan sebagainya. Ada yang kulit putih, kuning dan hitam, belum lagi kabilahnya sangat beragam. Tetapi beliau sangat santun dalam sikap dan tutur kata, sehingga Allah memuji sebagai khuluqil azhim, pemilik akhlak yang agung.

Ketika masih lemah di Makkah maupun sesudah kuat dan berkuasa di Madinah, beliau selalu memaafkan orang yang memusuhinya. Akhlak terpuji tersebut bukan berhenti untuk beliau, tetapi Allah memerintahkan untuk diteladani umatnya, sehingga beliau dijadikan uswah hasanah, teladan paling baik.

Dalam pergaulan lintas agama saat itu beliau selalu berpesan agar tidak menghina sesembahan agama lain, tidak merusak rumah ibadah dan simbol ibadah agama lain, senantiasa menghormati tokoh dan umat agama lain. Beliau intens berdialog, bahkan Masjid Nabawi dijadikan tempat dialog terbuka antaragama. Dengan bahasa yang lembut beliau berkorespondensi dengan penguasa dan pemuka agama lain, dan menyuruh para sahabatnya agar mempelajari budaya dan bahasa lain guna mengintensifkan komunikasi eksternal.

Tak hanya itu, Rasulullah saw bahkan mengancam bukan termasuk golongan beliau jika ada umat Islam yang sampai menyakiti penganut agama lain. Bukan golongan kami (laisa minna), merupakan ancaman keras yang hanya ditujukan terhadap sebuah pelanggaran berat. Jadi, menghina, merugikan dan menyakiti agama dan umat lain, termasuk pelanggaran berat. Sama sekali bukan perbuatan terpuji yang beroleh pahala dan ganjaran surga.

 

Hanya Segelintir

Sayang wajah asli Islam yang penuh dengan energi cinta dan kebaikan ini belum banyak dijadikan prinsip hidup. Ketika Dr. Wahyuddin, MSi dari IAIN Antasari Banjarmasin menekankan pentingnya konsep cinta sebagai peredam konflik agama kepada Prof. Dr. Mochtar Pabottinggi (Peneliti LIPI) dalam dialog lintas iman di Vihara Dammasoka Banjarmasin (16/8/2016), Mochtar setuju sekali, tetapi ia mempertanyakan, berapa persen umat beragama, yang memiliki konsep cinta dalam dirinya, sampai pada ”maqam hub” untuk menyintai semua penganut agama yang berbeda.

Jujur kita akui, pemilik maqam hub dalam konteks hubungan dan pergaulan lintas agama selama ini masih kurang. Yang sudah dilakukan baru dialog lintas iman, dan ini sudah banyak berhasil, khususnya di tingkat elit. Tetapi belum meresap dan merata ke akar rumput. Terbukti ketika terjadi anarkisme di ranah agama, hampir pasti pelakunya masyarakat akar rumput. Tentu ada provokatornya, yang tidak memiliki cinta dalam beragama, tetapi yang dimanfaatkan pasti akar rumput, dengan mengeksploitasi primordialisme, kesenjangan sosial, ketidakadilan dan sebagainya yang memang sudah ada sebelumnya.

Ulama dan pemuka agama kita, rata-rata menguasai ilmu agamanya masing-masing. Bahkan dalam beberapa hal juga merupakan guru-guru sufistik yang mengajarkan berbagai ajaran dan amalan tasawuf, termasuk amalan mahabbah atau cinta. Tetapi mahabbah yang ditekankan lebih sebatas cinta kepada Allah saja, belum atau kurang dalam hal mahabbah kepada sesama manusia dan umat beragama. Padahal Allah sudah tegaskan, siapa yang tidak menyayangi makhluk di bumi, pasti tidak akan disayangi oleh Allah dan makluk-Nya di langit (malaikat).

Tugas ulama dan pemuka agama sekarang dan ke depan adalah memperkuat dan memasyarakatkan energi cinta dalam beragama, sehingga kita beragama tidak lagi berdasarkan fanatisme dan eksklusivisme, tetapi sudah berlandaskan rasa cinta yang purna untuk sesama.

Imam al-Ghazali ketika melihat lalat jatuh ke cangkir tinta tempatnya menulis, segera mengangkat dan menyelamatkannya, dan ternyata Tuhan memuji perbuatannya itu, tak kalah dengan kealiman dan jasanya menulis ribuan kitab agama. Ulama sufi Bisri al-Khafi segera melepas bajunya ketika melihat anak-anak kucing kedinginan di tengah badai salju, bukan untuk diberikan ke kucing tetapi agar dia juga ikut merasakan penderitaan makhluk Allah yang tak berdaya.

Jadi, orang yang hidup dan beragama dengan cinta, tak hanya manusia yang selamat dari gangguan lidah dan tangannya, tetapi binatang pun ikut selamat dan berbahagia karenanya. Tak ada ceritanya kucing dibiarkan merana, diusir dan berkeliaran di jalan raya dengan risiko kehilangan nyawa. Wallahu A’lam.

Penulis :
Editor / Redaktur : jain