MENINGKATKAN PROFESIONALISME HUMAS (Kajian Tujuh Pesan strategis Ismail Cawidu Staf Khusus Kemenag Untuk Meningkatkan Profesionalisme Humas Kementerian Agama)
Pendahuluan
Artikel ini membahas pentingnya profesionalisme dalam dunia kehumasan, khususnya di institusi pemerintah, dengan mengacu pada arahan Ismail Cawidu, Staf Khusus Menteri Agama Bidang Komunikasi Publik. Pendekatan ini diperkuat oleh pandangan para pakar komunikasi Indonesia, seperti Onong Uchjana Effendy dan Deddy Mulyana. Analisis ini berfokus pada tujuh pesan strategis yang diberikan kepada humas Kemenag dan relevansinya dalam konteks komunikasi publik modern di Indonesia.
Komunikasi merupakan elemen penting dalam kehidupan bermasyarakat, berorganisasi, dan bernegara. Dalam perspektif Onong Uchjana Effendy, komunikasi yang efektif memerlukan strategi yang terencana dan responsif. Dalam acara pemberdayaan SDM Kehumasan di Depok, Staf Khusus Menteri Agama Bidang Komunikasi Publik, Ismail Cawidu, menyampaikan tujuh pesan strategis untuk meningkatkan profesionalisme humas Kementerian Agama. Artikel ini mengkaji pesan tersebut melalui pendekatan teori komunikasi yang diungkapkan oleh para pakar Indonesia.
Pesan Strategis dan Perspektif Pakar Komunikasi
1. Hubungan dengan Media:
o Ismail menekankan bahwa humas harus membangun hubungan baik dengan wartawan.
o Onong Uchjana Effendy (2003) menyebutkan bahwa media adalah "mitra strategis" dalam proses komunikasi massa yang efektif. Hubungan baik ini mendukung distribusi informasi yang cepat dan akurat.
2. Penguasaan Kebijakan Institusi:
o Humas harus memahami kebijakan institusi untuk menyampaikan pesan dengan konsisten.
o Deddy Mulyana (2005) menekankan pentingnya penguasaan konteks dalam komunikasi, karena pesan yang tidak relevan dapat menurunkan kredibilitas institusi.
3. Responsivitas terhadap Informasi:
o Ismail menegaskan pentingnya kecepatan dalam menjawab pertanyaan.
o Effendy (1993) menyatakan bahwa komunikasi yang responsif dapat membangun kepercayaan publik, yang merupakan fondasi keberhasilan institusi publik.
4. Perluasan Jaringan:
o Hubungan yang luas memungkinkan humas menciptakan sinergi dengan berbagai pihak.
o Dalam pandangan Effendy, membangun jaringan adalah bagian dari komunikasi lintas budaya yang efektif, di mana latar belakang beragam dapat menjadi aset kolaborasi.
5. Kemampuan Membaca Situasi:
o Ismail mendorong humas untuk menyesuaikan pesan dengan dinamika situasi.
o Menurut Mulyana, kemampuan membaca situasi mencerminkan kecerdasan emosional dalam komunikasi interpersonal, yang penting untuk memahami audiens.
6. Semangat dan Antusiasme:
o Semangat humas mencerminkan citra institusi.
o Effendy menyatakan bahwa komunikasi nonverbal, seperti ekspresi dan sikap positif, sangat memengaruhi persepsi publik terhadap institusi.
7. Pemanfaatan Teknologi Digital (Implikasi):
o Teknologi digital menjadi alat yang tak terpisahkan dalam komunikasi publik modern.
o Dalam konteks Indonesia, Effendy menggarisbawahi pentingnya adaptasi teknologi untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan menciptakan transparansi.
Relevansi Pesan dalam Konteks Indonesia
1. Pentingnya Hubungan Media:
o Di Indonesia, media merupakan saluran utama komunikasi publik, terutama dalam menyampaikan kebijakan pemerintah. Hubungan harmonis dengan media menjadi modal penting bagi humas.
2. Konteks Budaya Lokal:
o Pesan Ismail Cawidu selaras dengan prinsip komunikasi yang menghormati keragaman budaya, sebagaimana diungkapkan oleh Mulyana.
3. Komunikasi Transparan:
o Responsivitas yang diusung dalam pesan ini relevan dengan tuntutan masyarakat Indonesia terhadap transparansi informasi.
Kritik dan Tantangan
1. Kritik:
o Arahan ini perlu didukung oleh pelatihan berkelanjutan, terutama dalam pemanfaatan teknologi digital.
o Tidak semua humas memiliki kompetensi yang cukup untuk membaca situasi secara strategis.
2. Tantangan:
o Mengintegrasikan teknologi digital dalam komunikasi yang inklusif dan tetap menghormati aspek budaya lokal.
o Menjaga keseimbangan antara responsivitas terhadap media dengan perlindungan informasi sensitif.
Kesimpulan dan Rekomendasi
1. Kesimpulan:
o Tujuh pesan dari Ismail Cawidu memberikan panduan strategis untuk meningkatkan profesionalisme humas di Indonesia. Pesan ini relevan dengan prinsip komunikasi efektif yang dikemukakan oleh pakar seperti Onong Uchjana Effendy dan Deddy Mulyana.
2. Rekomendasi:
o Pelatihan lanjutan terkait teknologi digital dan komunikasi krisis.
o Peningkatan kemampuan membaca situasi dengan pendekatan berbasis budaya lokal.
o Pengembangan hubungan yang lebih kuat dengan media untuk meningkatkan transparansi dan kredibilitas institusi.
Referensi
• Effendy, O. U. (1993). Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Citra Aditya Bakti.
• Effendy, O. U. (2003). Hubungan Masyarakat: Suatu Studi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
• Mulyana, D. (2005). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
• Cawidu, I. (2024). Arahan pada Acara Pemberdayaan SDM Kehumasan, Depok, 3 Desember 2024.
Note :
Artikel ini memberikan perspektif ilmiah tentang profesionalisme humas di Indonesia, dengan mengintegrasikan pandangan pakar komunikasi dan relevansi dalam konteks komunikasi publik modern.
Penulis : Hidayaturrahman (Pranata Humas Ahli Muda)
Editor / Redaktur : dayat