Puasa Ramadhan Sebagai Pengontrol Kestabilan Emosi Umat
Juru parkir meninggal dunia seusai di aniaya pemuda karena motif dendam, kata Kasi Humas Polres HSS terjadi pada hari sabtu tanggal 1 April 2023 sekitar pukul 17:00 Wita. Kemudian pada tanggal 11 April 2023 sekitar pukul 23:45 Wita seorang pemuda mabuk melakukan percobaan pemerkosaan kepada seorang perempuan berstatus guru PNS saat terlelap tidur.
Karena korban kaget dan terbangun mencoba berontak, namun pelaku malah menghujamkan tusukkan senjata tajam berkali-kali hingga korban mengalami 13 luka di sekujur tubuh. Pada tanggal 12 April 2023 sekitar pukul 03:00 Wita telah di amankan 2 (dua) orang karena tindak pidana penganiayaan yang menyebabkan matinya orang. Itulah sederet catatan kecil tentang peristiwa kriminal yang terjadi pada bulan suci Ramadhan tahun ini di Hulu Sungai bagian selatan yaitu Kandangan.
Kandangan secara historis, menurut kalangan budayawan dan sosiolog berkesimpulan bahwa karakter orang Kandangan itu keras, berani dan bertanggungjawab, punya solidaritas yang kental, teguh dalam memegang prinsip, dan meletakkan harga diri di tempat yang tinggi. Apabila muncul persoalan yang bersentuhan dengan harga diri, maka jawabnya adalah jika itu dianggap fatal, maka pilihan penutup rasa malu itu cuma dua, yaitu nyawa atau minggat dari kampung. Maksud dengan pilihan nyawa adalah membunuh atau terbunuh.
Sejatinya Ramadhan merupakan bulan penuh keberkahan. Secara garis besar bisa dibagi tiga, yaitu 10 malam pertama yang merupakan periode penuh rahmat Allah, 10 hari kedua yang berisi banyak maghfirah (ampunan), dan 10 hari terakhir sebagai periode pembebas manusia dari api neraka. Dengan kata lain, setiap harinya selama sebulan penuh selalu ada berkah yang bisa kita dapatkan.
Melirik peristiwa di atas, “seakan-akan” keberkahan Ramadhan hanya bersahabat bagi sebagian orang dan tidak bagi sebagian lainnya. Puasa Ramadhan seharusnya senantiasa melatih umat Islam untuk menahan segala hawa nafsu. Termasuk di dalamnya menahan marah. Sebagai manusia, tentu ada begitu banyak hal yang bisa membuat kita menjadi marah, seperti ketika dibohongi, diperlakukan tidak adil, frustasi, diganggu ketika kondisi capek, dan beberapa alasan lainnya. Namun, itu semua tidak berarti menjadikan kemarahan kita sebagai alasan untuk berbuat hal-hal kekerasan atau kericuhan.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah berwasiat kepada sahabatnya untuk tidak marah. Sebab, balasan bagi orang yang dapat menahan amarah adalah surga. LaTaghdhab wa lakal Jannah. Artinya: "Janganlah kamu marah, maka surga bagimu." (HR. Ath Thabrani).
Selama bulan Ramadan ini umat Islam dilatih untuk mengendalikan amarah. Bahkan, disebutkan dalam sebuah riwayat, Yang artinya: "Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, telah bersabda: Orang yang kuat itu bukanlah karena jago gulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya di kala sedang marah." (HR Bukhari dan Muslim).
Puasa Ramadhan mempunyai peran sebagai pengontrol kestabilan emosi. Kestabilan emosi merupakan keadaan emosi seseorang yang diperlihatkan dengan sikap yang sesuai harapan sosial, tidak berlebih-lebihan dalam mengekspresikan emosi serta bisa menyeimbangkan antara kebutuhan fisik dan psikis.
Menurut Chaplin (2008:123) dalam Kamus Lengkap Psikologi, kestabilan emosi dapat terbentuk berdasarkan karakteristik individu yang mempunyai kontrol baik dan akan selalu mempertimbangkan segala tingkah lakunya dengan matang, selain itu mereka akan berfikir dan bertindak secara realistis sesuai dengan keadaan yang ada serta tidak tergesa-gesa untuk mengambil suatu tindakan tanpa perhitungan yang matang.
Imam Nawawi dalam Kitab al Adzkar mengatakan jika seseorang dicela oleh orang lain atau diajak berkelahi ketika sedang berpuasa, maka katakanlah Inni Shaaimun, Inni Shaaimun (Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa) sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW yang di riwayatkan oleh Imam al Bukhari dan Muslim yang artinya : “Puasa adalah membentengi diri, maka bila salah seorang kamu di hari ia berpuasa janganlah berkata kotor dan jangan teriak-teriak, dan jika seseorang memakinya atau mengajaknya bertengkar hendaklah ia mengatakan “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”.
Saat menjalankan ibadah puasa, bukan hanya perlu menahan lapar dan haus tapi juga harus menahan hawa nafsu serta amarah. Lalu bagaimana jika ada yang memicu amarah kita saat sedang berpuasa? Untuk mengendalikan amarah. berikut cara yang diajarkan Rasulullah SAW yang bisa kita terapkan sebagaimana di kutip pada laman situs www.umma.id.
Pertama Diam.
Rasulullah mengajarkan, jika ada yang membuat kita marah sebaiknya diam. Hal ini juga bisa menjaga ibadah puasa kita tetap sempurna. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Idza gadhiba ahadukum falyaskut. Artinya; “Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad).
Kedua Perbanyak baca ta`awudz.
Rasulullah mengajarkan cara mengendalikan amarah saat puasa dengan memperbanyak baca ta`awudz. Sebagaimana sabdanya: “Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ketiga Berwudhu.
Rasulullah mengajarkan jika marah bisa diredam dengan berwudhu, salah satunya. Dari Urwah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan, Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu. (HR. Ahmad dan Abu Daud).
Keempat Bersujud atau shalat sunnah.
Jika amarah tengah membakar tubuhmu, segeralah mengambil wudhu dan lakukan sujud dengan mengerjakan shalat sunnah dua rakaat. Seperti sabda Rasulullah dalam sebuah hadis. Yang artinya “Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu, maka hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud).” (HR. Tirmidzi).
Kelima Berdzikir.
Selain menambah pahala saat berpuasa, berdzikir juga bisa menjadi senjata untuk meredam amarah. Anjuran ini tertuang dalam firman Allah berikut ini.
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allâh, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allâh ? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (Q. S. Ali ‘Imrân: 135).
Akhirnya, semoga Allah SWT selalu menuntun kita semua untuk bisa menahan amarah, tidak suka marah dan menjadi orang yang penyabar dan mendapatkan bidadari di Surga kelak sebagaimana yang di janjikan. Dari Mu’adz bin Anas, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang dapat menahan marahnya padahal ia mampu untuk meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari kiamat sehingga orang itu memilih bidadari cantik sesuka hatinya.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah). Daripada harus mendekam di jeruji besi penjara, dan tidak memperoleh kemenangan di hari Raya Idul Fitri. Naudzubillah min dzalik.
sumber foto (https://asset.kompas.com/crops/YNg9mN3sfqPfc9k0buhTc0T5Ie8=/0x0:1134x756/750x500/data/photo/2023/03/31/64266197dc0db.jpg)
Editor / Redaktur : rajudin