Diunggah tanggal 05-12-2016 06:31:22 WITA

Pembinaan Akhlak Siswa



( Penulis Siti Mursidah Guru MIS Al Irsyad  Amuntai)

Terwujudnya kehidupan masyarakat yang berpegang pada moralitas tak bisa lain kecuali dari pendidikan, khususnya pendidikan agama. Sebab, moralitas yang mempunyai daya ikat masyarakat bersumber dari agama, nilai-nilai agamaa.

Agama yang berdimensi kedalam pada kehidupan manusia membentuk daya tahan untuk menghadapi pelbagai godaan, ancaman, penderitaan, dan keluar membentuk tingkah laku yang sesuai dengan ucapan batinnya.

Pendidikan agama menekankan pada ajaran moral, moralitas dalam pergaulan hidup menjadi sumber solidaritas. Dengan berpegang kepada moralitas orang menyadari perlunya menjaga perasaan dan memperhatikan kepentingan orang lain

Mengingat pentingnya arti dari peranan agama bagi tata kehidupan  perseorangan maupun bermasyarakat, maka dalam pasal 3 UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi waga negara yang demokratis serta bertanggung jawab

Tujuan pendidikan nasional ini selaras dengan tujuan pendidikan agama Islam yaitu meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan siswa terhadap ajaran agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Meskipun demikian, tampaknya pendidikan agama melalui berbagai instansi dan media belum mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan. Berbagai tindakan negatif, penyimpangan dan kejahatan masih mewarnai kehidupan.

kemajuan  ilmu pengetahuan, tehnologi yang begitu cepat di negara kita ini, disamping mendatangkan manfaat yang banyak, juga dapat menimbulkan dampak yang negatif bagi perkembangan bangsa ini. Hal ini ditandai dengan begitu cepatnya pengaruh budaya barat yang masuk ke Indonesia terutama bagi kaum mudanya, tanpa memperhatikan,  memperhitungkan apakah budaya itu sesuai dengan kepribadian bangsa, norma sosial apalagi norma agama. Dalam hitungan waktu yang relatif singkat, budaya itu merasuk dalam jiwa anak-anak muda, pelajar, mahasiswa, sehingga benih-benih yang sifatnya negatif seperti kenakalan remaja, perkelahian antar pelajar, mencuri, dan sebagainya, hal tersebut selalu menghiasi berita.

Itu semua merupakan problema yang harus dipecahkan oleh semua pihak baik dari orang tua, guru, masyarakat, dan pemerintah secara bersama-sama  sesuai dengan kapasitas masing-masing. Dalam hal ini sekolah mempunyai tanggung jawab yang besar yaitu mengemban misi moral dan memperbaiki akhlak peserta didiknya dengan melalui pelajaran agama Islam. Guru merupakan salah satu orang yang paling berpengaruh dalam mendewasakan anak didik agar menjadi anggota masyarakat yang berguna dan memiliki kepribadian yang mencerminkan akhlak yang mulia.

Pada hakekatnya pelajaran agama Islam belum dapat diandalkan  untuk menghantarkan peserta didik kepada pembentukan perilaku atau watak dan untuk penguasaan serta pengalaman ajaran agama sebagaimana yang diharapkan oleh orang tua, karena alokasi waktu pelajaran agama Islam yang bersifat intrakurikuler di sekolah negeri masih terbatas .

Disamping itu, kondisi yang berada pada tingkat usia pra remaja dan menginjak remaja sedang mengalami masa perkembangan dari masa anak-anak yang penuh ketergantungan menuju ke masa pembentukan tanggung jawab disertai pertumbuhan fisik yang sangat berbeda sehingga akan mempengaruhi aspek psikisnya. Dengan kondisi siswa yang demikian, maka perlu perhatian dan bimbingan yang positif dari orang tua juga dari pihak sekolah.

 

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Zakiah Daradjat bahwa :

Pada umur remaja terjadi berbagai perubahan yang tidak mudah bagi seorang anak untuk menghadapinya tanpa bantuan dan pengertian dari pihak orang tua  dan orang dewasa pada umumnya. Pada umur ini terjadi perubahan–perubahan cepat pada jasmani, emosi, sosial, akhlak dan kecerdasan. Pada usia ini mereka sangat peka terhadap segala persoalan luar dan sangat tertarik pada gejala-gejala yang mirip dengan apa yang mulai  bergejolak dalam jiwanya, akibat pertumbuhan masa pubertas yang membawa dorongan baru dalam hidupnya (dorongan yang berlawanan dengan agama). 

Jika remaja yang jiwanya masih labil dan penuh pertentangan nilai serta mempunyai permasalahan yang sulit dipecahkan sendiri kemudian tidak mendapat bimbingan yang tepat dan pelayanan yang memuaskan baik dari orangtua atau pendidik, maka dalam perkembangan selanjutnya bisa berbahaya, karena dikhawatirkan akan keliru dalam mengambil sikap.

Dalam keadaan tidak puas remaja sering membuat ulah yang melanggar norma yang berlaku di lingkungan baik di masyarakat maupun di sekolah seperti kenakalan remaja, perkelahian antar pelajar, tidak berakhlak, munculnya premanisme, mencuri dan berbagai bentuk kejahatan lainnya. Oleh karena itu, pendidikan agama Islam diharapkan dapat menumbuhkembangkan kemampuan yang ada pada diri anak melalui bimbingan, pengajaran dan pelatihan agar keimanan dan ketaqwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.

Penulis :
Editor / Redaktur : rajudin