Apresiasi Terhadap Pengabdian Guru Masih Kurang
Oleh : Jamaludin Nasrullah, S.Ag.
(Guru Bidang Studi Bahasa Arab Pada MAN Haruai Kabupaten Tabalong)
Sebagai seorang guru, tentunya sudah tahu tugas pokok dan fungsinya. Seiring dengan perkembangan zaman, seorang guru dituntut untuk lebih meningkatkan profesionalitas. Proses pembelajaran yang yang dimotori guru selalu diharapkan bisa berjalan efektif dan efisien yang berbasis PAIKEM. Disamping harus melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, seorang guru terkadang juga diberikan beberapa tugas tambahan untuk dilaksanakan guna menunjang sistem pendidikan yang ada di sebuah sekolah.
Adanya penghargaan kepada para guru yang berprestasi boleh saja dikatakan itu adalah sebuah bentuk apresiasi terhadap guru. Tetapi pada kenyataannya, penghargaan yang diterima oleh guru berprestasi sekarang bukan berdasarkan pantauan langsung ke lapangan, melainkan atas usulan guru yang bersangkutan dengan melengkapi berbagai berkas supaya bisa memenuhi kriteria guru berprestasi.
Pengabdian seorang guru di sebuah sekolah sudah sewajarnya mendapatkan apresiasi yang walaupun itu tidak bisa membayar arti sesungguhnya dari sebuah pengabdian. Tetapi paling tidak seorang guru merasa dihargai atas berbagai bentuk pengabdian yang telah dilakukannya. Ketika kita mau terjun ke lapangan, kita mau melihat dan mendengar langsung apa saja yang terjadi di lapangan, ternyata masih banyak guru yang pengabdiannya dipandang sebelah mata oleh atasan. Baik pengabdian itu berupa tugas pokoknya sebagai guru maupun tugas tambahan yang menunjang kemajuan dunia pendidikan.
Menurut hemat penulis berdasarkan fakta di lapangan, diantara bentuk kurangnya apresiasi yang diterima guru di sekolah antara lain sebagai berikut :
- Salah satu bentuk apresiasi terhadap guru adalah adanya perhatian yang serius dari pihak atasan, sehingga diharapkan kinerja guru yang lebih baik bisa mendapatkan perhatian dan kinerja guru yang di bawah standar tentunya diberikan pembinaan yang lebih baik. Guru yang memiliki tugas pokok mengajar dan mendidik siswa-siswanya jarang sekali mendapatkan supervisi langsung oleh atasan, jarang dipantau diawasi oleh pengawas dan jarang bahkan tidak pernah sama sekali diikutsertakan dalam pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kompetensinya sebagai guru.
Seharusnya, pihak-pihak terkait bisa memberikan apresiasi dalam bentuk pengawasan dan pembinaan kepada guru, sehingga diharapkan guru merasa diperhatikan dan dihargai karena mendapatkan pengawasan dan bimbingan guna mewujudkan sebuah dunia pendidikan yang bisa diandalkan.
- Kurang bahkan tidak adanya penghargaan yang berarti bagi guru plus-plus yang bisa melakukan tugas tambahan selain tugas pokoknya mengajar dan mendidik. Sebagai contoh, tidak sedikit guru yang mendapatkan tugas tambahan dari sekolahnya disamping kesibukannya dalam mengajar dan mendidik para siswanya. Ketika seorang guru menerima tugas tambahan itu, ia melakukannya dengan optimal tanpa harus mengganggu tugas pokoknya, sehingga tugas pokok dan tugas tambahan terlaksana dengan baik bahkan lebih dari baik. Tetapi, bukannya apresiasi positif yang ia dapatkan melainkan sebaliknya. Ia justru seringkali disalahkan dan disudutkan dengan sesuatu masalah yang kecil atau ngawur. Dengan demikian, hal-hal positif yang pernah dilakukan guru tersebut tidak dimunculkan sedikitpun. Yang terlihat hanyalah keburukan-keburukannya karena efek ketidak sukaan atau kebencian.
- Seorang atasan adalah epresiator, ketegasan seseorang sebagai atasan kepada para guru juga merupakan bentuk apresiasi terhadap guru. Semua orang pasti tidak akan pernah luput dari yang namanya kealfaan dan kesalahan. Tetapi kesalahan itu tidak seharusnya dimanajerialisasi menjadi sebuah kesalahan besar. Kesalahan kecil seharusnya diapresiasi dan diolah menjadi pelengkap serta acuan untuk menjadi lebih baik.
Editor / Redaktur : rajudin