Diunggah tanggal 29-11-2016 09:00:11 WITA

Saat Sekolah Dihuni Guru Abal-Abal



Oleh : Jamaludin Nasrullah, S.Ag.

(Guru Bidang Studi Bahasa Arab Pada MAN Haruai Kabupaten Tabalong)

Sekolah adalah sebuah lembaga pendidikan yang yang sejatinya dihuni oleh orang-orang profesional dan bermartabat khususnya guru selaku tenaga pendidik, karena sekolah adalah lembaga yang menyiapkan dan mencetak generasi bangsa yang handal. Sesuai dengan amanah Undang-undang, guru harus memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi professional. Maka setiap guru dalam sebuah sekolah harus bisa mencapai indikator-indikator empat kompetensi tersebut.

Bagaimana jika sebuah sekolah dihuni oleh guru-guru yang tidak profesional alias abal-abal ? Jawabannya sudah tentu sekolah itu tidak mengalami perkembangan berarti, karena guru abal-abal hanya melaksanakan tugas mengajar dengan asal tanpa ada rasa dosa dan menyesal.

Kalau kita mau melihat keadaan di lapangan yang sebenarnya, tidak sedikit sekolah yang dihuni oleh guru abal-abal. Lihat saja, di beberapa sekolah kita bisa melihat beberapa oknum guru seperti itu. Datang ke sekolah agak terlambat, sesampai di ruangan guru duduk sejenak untuk istirahat, ia tidak peduli walaupun masuk mengajar jam pertama seakan ia tidak bersalah seperti penjahat, kemudian masuk ke kelas sebentar menyuruh siswanya untuk mencatat, kemudian ia keluar ngobrol dengan guru-guru yang lain seperti ayam berkutat, masa bodoh dengan jadwal mengajarnya yang padat, yang penting absensi kehadirannya disekolah sebagai guru sudah tercatat, ia tidak sadar kalau sebenarnya ia adalah penjahat pendidikan kelas kakap.

Sudah menjadi rahasia umum, dibeberapa sekolah kita masih bisa menemukan guru abal-abal. Penampilannya tidak seperti orang intelek, karena kerjanya datang ke sekolah yang paling pertama ia dekati adalah cermin untuk bersolek. Sikap guru yang seharusnya berwibawa, ia malah dijadikan murid-murid bahan tertawa. Cara mengajar yang seharusnya selalu melahirkan metode-metode baru, ia justru tetap bertahan dengan metode lama yang sudah kusam dan kuno. Guru yang sejatinya memegang teguh kode etik, ia justru larut dalam idealisme politik. Guru yang mestinya punya prinsif, ia malah bagai orang primitif yang senang ke sana ke mari menebar gosip. Guru yang seharusnya bisa menjaga amanah, ia justru menjadikan dirinya guru penebar fitnah. Guru yang seharusnya bisa mengayomi, ia justru merasa puas bisa kepada siapapun membohongi. Guru yang seharusnya bermartabat, ia justru menganggap dirinya guru yang sudah hebat.

Ternyata masih ada guru abal-abal semacam itu yang menghuni sekolah dan masih tetap dipertahankan. Terkadang mereka-mereka yang berwenang juga pura-pura tidak tahu mengenai keadaan itu, tapi itulah kenyataan yang ada.

Untuk mengembalikan fungsi sekolah sebagai lembaga pendidikan yang dihuni guru-guru profesional, maka sudah barang tentu eksistensi guru abal-abal di sebuah sekolah harus dihentikan. Menurut hemat penulis, ada beberapa cara yang mestinya dilakukan untuk membumi hanguskan guru abal-abal di sebuah sekolah, antara lain :

  1. Harus adanya penyegaran bagi guru di setiap lembaga pendidikan dengan cara rolling tempat mengajar secara keseluruhan dengan tetap mempertimbangkan aspek sosial dan kemanusiaan.
  2. Adanya pengawasan dan pembinaan guru secara proporsional dan berkesinambungan, seperti monitoring pimpinan setiap saat, supervisi mengajar, pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bidang studi yang diampunya.
  3. Perlu adanya ketegasan dari pimpinan atas kinerja guru. Jika ia guru yang professional tentu berbagai apresiasi diberikan kepadanya. Dan jika ia guru abal-abal, maka langkah bijak harus segera dilakukan pimpinan.
  4. Guru harus dipastikan linier sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya.
  5. Guru harus dipastikan memenuhi kualifikasi akademik dan memenuhi kriteria plus-plus, artinya selama ini masih banyak guru pandai secara akademik saja, tetapi tidak bisa memberikan motivasi spirit bagi peserta didiknya.
  6. Guru ditekankan agar bisa mengajarkan kepada anak didiknya bukan sekedar menjadi apa (to be), tetapi yang terpenting adalah berbuat apa (to do).

Harapan kita semua, sekolah yang kita tempati sekarang adalah sekolah yang memang benar-benar dihuni guru-guru professional, bukan guru abal-abal.

Penulis :
Editor / Redaktur : rajudin