Sudahkah Guru Sebagai Penuntun dan Tontonan Baik Bagi Siswanya
Oleh : Hj.Wardah (Guru MIN Handil II Tambak Sirang)
Guru merupakan sebuah kata yang agung, bagi orang yang berilmu, guru merupakan orang berpengalaman, orang yang mampu mengubah seseorang dari yang tidak bisa memnjadi bisa, orang tidak penting menjadi penting, orang bodoh menjadi pintar, orang tidak berguna menjadi berguna. Tiada kata yang dapat diungkapkan lebih baik, lebih berjasa dan agung dari seorang guru.
Berkaca dari sudut pandang seorang yang mempunyai jabatan guru, Dia merupakan pekerjaan mulia, dan sangat dipandang dan dihormati ditengah masyarakat manapun, guru apapun baik guru mengajar di tempat formal maupun informal, guru merupakan panutan,yang sepatutnya ditiru dan diteladani, seperti pepatah Jawa,” Ing ngarso sung Toludho,(didepan guru sebagai contoh/teladan), Ing Madya mangun Karso (ditengah guru memberikan bimbingan/pembelajaran), Tut Wuri Handayani (dibelakang memberikan dorongan kearah yang positif untuk kemajuan siswa),” artinya guru yang menjadi pembimbing dan pendorong dari belakang.Guru merupakan seorang yang menjalankan amanah dan Rasululluh, karna dialah orang yang mengamalkan ilmunya, memberikan pengetahuan pada siswanya. namun, sudahkah guru menjadi pununtun dan tontonan yang baik bagi siswanya”.
Penuntun merupakan sebuah kewajiban dan keharusan yang diemban seorang guru, penuntun dalam melaksanakan kewajiban, penuntun dalam beribadah, penuntun dalam ilmu kedunian , gurulah yang mampu menghantarkan seseorang kedalam jalan lebih baik dari sebelumnya. Penuntun merupakan tempat bersandar bagi seseorang yang memiliki kekurangan, sehingga dengan adanya penunutun, mampu menutupi kekurangan tersebut. Bagi yang mengajar di Madrasah atau dimanapun, menjadi sebuah tanggug jawab untuk memberikan bimbingan dan penuntun bagi siswanya dalam menimba ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan agama maupun ilmu pengetahuan umum. Namun alangkah indah dan mulianya, apa yang diajarakan menjadi sebuah amal perbuatan yang selalu dikenang siswa sepanjang hidupnya,
Ilmu baik ilmu Agama maupun ilmu pengetahuan umum mempunyai nilai yang sama, disetiap sumber pelajaran tersebut, selalu mengerucut kepada sang pencipta(Allah.Swt), sebagai finis dari sebuah mata pelajaran, tetapi untuk guru yang mengajar ditingkat dasar, pandai- pandailah mengaitkan pelajaran kearah ilmu agama, pelajaran Matematika , jadikan lah metematika agama, Pkn,IPS, IPA, Pjok, Sbdb, dan semua mata pelajaran umum,kaitkanlah semua mata pelajaran tersebut, agar selalu bersentuhan kearah agama, semua pelajaran berkaitan dengan hidup dan kehidupan, mampu menuntun peserta didik memperoleh kebahagian dunia dan akhirat .
Sebagai penuntun apa yang disamapaiakan guru dalam setiap pelajaran, hendaknya selalu di barengi dengan pengaplikasian ilmu yang diajarkan tersebut, agar siswa mempunyai idola dalam kehidupannya, siswa sekarang sangat memprihatinkan, krisis sosok idola buat kehidupan mereka amatlah gamang. Banyaknya tontonan di telivisi membuat siswa lebih mengidolakan tokoh- tokoh yang tidak seharusnya.Mereka lebih mengenal Boy, power Ranger, yang kerjanya berkelahi, ugal-ugalan dijalan, dan berani pada orang tua.
Disinilah guru perlu menjadi tontonan yang mampu membelokan kekaguman mereka pada artis- artis yang seharusnya tidak mereka kenal, guru harus mampu menghadirkan disetiap pertemuan tontonan yang membuat siswa melupakan tokoh- tokoh tv, bahkan setiap hari pertemuan dengan gurunya, adalah merupakan kesempatan menyenangkan bagi siswa.Guru tidak perlu tampil bak artis sinetron, guru hanya diharuskan mampu memahami dan mengerti apa yang siswanya inginkan dan dapatkan. diketika guru paham dan terjalin perasaan emosi saling memahami, maka kebutuhan siswa terhadap guru, akan terpenuhi, siswa akan merasa gurunya adalah jalan keluar permasalahannya, gurunya adalah penolongnya, pemerhatinya,dan jalan keluar bagi setiap kesusahannya. Maka guru seperti ini akan mampu menjadi idola, yang selalu diharapkan dan dinantikan bagi siswanya.
Tak kalah penting kepribadian guru, dihadapan para siswanya, sepatutnya guru menampilkan sesuatu yang dikagumi siswa sambil diberikan arahan diketika menjadi penuntun dan tontonan dalam kehidupan siswa, guru harus mengaplikasikan pengetahuan dan hal- hal yang disamapaikan kepada siswanya, seperti Guru menyuruh siswa melaksanakan sembahyang tepat waktu, maka diketika azan, guru harus segera melaksanakan sembahyang, jangan malah siswa melaksanakan sholat, gurunya malah ngobrol.” Seperti sahabat Nabi Quwais Al-Qarni, beliau ingin bersedekah, tetapi pada saat itu tidak punya apa- apa, karena uang dibawa telah habis dibelanjakan, maka beliau melihat ada orang yang membuang makanan dipinggir jalan, padahal makanan tersebut masih baik, lalu Quwais mengambil makanan tersebut, dan dia memberikan pada pengemis yang memintanya, namun Quwais memakannya sebagian agar pengemis tidak merasa jijik. Beliau dulu yang memakannnya baru memberikannya pada orang lain,”. Seperti juga Al-Imam syafi’e, beliau hampir 10 tahun, tidak berani berkhutbah tentang sedekah, karena beliau tidak sanggup memberi sedekah, setelah mampu bersedekah baru beliau berani menyampaikan kepada kaumnya tentang keutamaan bersedekah”.
Intinya guru sebagai penuntun dan yang ditonton siswanya, mampu menjadi figur yang wajib dicontoh bagi siswanya, dan orang sekelilingnya, berbuat sesuai apa yang dikatakannya, bertingkah pola sopan , santun, dan bijaksana, mampu menyenangkan orang- orang sekelilingnya, terlebih siswanya, penuh kasih sayang pada sesama, arif dan bijaksana dalam memutuskan suatu perkara, agar tidak ada yang terluka perasaannya.Semoga semua guru yang ada di Kemetrean Agama, mampu menjadi idola bagi para siswanya.
Penulis :Editor / Redaktur : rajudin