Diunggah tanggal 25-11-2016 01:52:16 WITA

Generasi Anak Singkong Melahirkan Anak Digital



Oleh : Hj.Wardah Guru Kelas MIN Handil II

Manusia semua dilahirkan dalam keadaan fitrah, seperti hadits Nabi, yang berbunyi” kullu Mauluddin Yuuladu alallah Fitrah” artinya : “Semua anak dilahirkan dalam keadaan fitrah/suci,” tinggal orang tua yang memberi polesan pada anak apakah mau hitam atau putih.

Sekitar tahun delapan puluh, sembilan puluh, seorang anak masih bisa dikatakan sebagai anak singkong, anak patuh pada kedua orang tua, guru dan pandai baradaptasi dengan lingkungannya, yang pada zamannya, anak tingkat dasar mampu mandiri dan berdikari, bangun sangat pagi, mampu membuat sarapan pagi sendiri,masih rajin mencatat pelajaran, mencari buku diperpustakaan, mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) disore atau malam hari, banyak buku dikumpulkan guna bahan perbandingan dan pengetahuan tambahan, hampir setengah malam bagi anak kuliahan tempo dulu, menyelesaikan permasalahan dan tugas yang dibebankan, mencari berbagai buku sebagai bahan kutipan, itupun kadang- kadang masih sempat membantu orang dalam tugas dirumah, atau mencari uang tambahan untuk kebutuhan sehari- hari, dan belanja sendiri. itupun tak seberapa karena bahan jajanan apa adanya, belum mengenal namanya kentaki, sandawic, hamburger, dan makanan sejenisnya, tidak pernah kenal dan pergi yang namanya super market dan hal semacamnya, hanya dilihat ditelevisi.

Rasa hormat, segan dan patuh terhadap orang tua masih amat terasa, apalagi terhadap pendidik dan pengajar dan guru -guru ngaji, berpapasanpun terkadang menghindar, karena rasa segan yang tinggi. Belum lagi, ketika bersama teman sebaya, seakan seperti saudara,, rasa sosial tinggi dan solidaritas mendalam, apa yang dimakan semua akan terasa, pertemanan seperti persaudaraan. Pengeluaran pada masa anak singkong tidak seberapa, karena bahan jajanan tersedianya biasa- biasa saja, paling berupa keripik, sasagun, gula gait, kuwaci bigi waluh, marning, harganya tak seberapa, itupun makanan/jajanan terasa amat istimewa.

Berbalik seratus delapan puluh derajat anak sekarang, jangankan membantu orang tua, pulang sekolah yang dicari handphone yang tak pernah terpisah dari badan, tidak menyelesaikan pekerjaan rumah yang dibebankan, disebut sebagai zaman digital, semua permasalahan diselesaikan secara instan, bahkan anak sekarang jauh dari sosialisasi dimasyarakat, mereka lebih senang mengurung diri di kamar, di temani alat – alat elektronik , dari hp, laptop, netbook, bahkan kulkaspun dikamar pribadi. Bila hendak mengerjakan PR atau tugas sekolah, tinggal mengutip di google, tanpa susah payah mencari buku diperpustakaan, semua diselesaikan, tanpa harus bertemu orang sekitar, itulah kekurangan anak digital, rasa sosial dimasyarakat, secara perlahan namun pasti telah tergeros dan memudar, kurangnya pergaulan pada sesama membuat rasa kemanusian dan sensitifitas semakin tidak kelihatan.

Tuntutan zaman membuat anak digital selalu memaksakan kehendak, apa yang diinginkan harus dikabulkan, tanpa memperdulikan kondosi orang tua, rasa hormat yang ditanamakan seakan tidak kelihatan, anak digital selalu menginginkan hal yang berlebihan, terkadang rasa sombong merupakan kebanggaan, persaingan di kalangan anak digital semakin nampak tidak terkendali, banyak tauran, kekerasan sesama teman, bahkan sering kita saksikan perkelahian dan pembunuhan antar teman sekolah, antar geng- geng dikalangan remaja, karena kurangnya rasa kemanusian dan kasih sayang yang ditanamkan, terlebih anak yang tidak pernah diberi bimbingan agama, mental anak digital akan ambruk dan bubruk, ditambah orang tua yang selalu sibuk, dari senin sampai senin lagi tidak ada komunikasi, kasih sayang seperti sudah melayang, sehingga anak digital seperti kekurangan rasa kemanusian dan kehilangan jati diri. Tradisi Makan bersama sudah jarang dalam keluarga, anak digital lebih senang menyantap makanan instan, siap saji karna tidak menyulitkan dan menyusahkan.

Sebagai orang tua yang hidup pada zaman anak singkong yang melahirkan anak digital bisa merasakan kesenjangan yang terjadi pada zaman digital, baik dari sisi pemahaman agama, pendidikan, pergaulan, dan silaturrahmi jauh dari yang diharapkan, pandai- pandailah sebagai orang tua yang hidup dizaman anak singkong, agar mampu mengantisipasi kebubrakan moral yang terjadi pada anak- anaknya, curahan kasih sayang dan perhatian selalu dilimpahkan yang terjadi pada anak akan terkontrol dengan baik.

Orang tua yang hanya sibuk memperhatikan pekerjaan dan keperluannya, sedang anak tidak diberikan perhatian, hanya uang yang dikasihkan pertanda kasih sayang, maka orangtua seperti itu , akan menjadikan anak sebagai bom waktu yang suatu saat, orang tua akan menuai apa yang ditanamnya pada anaknya,anak tampak kelihatan patuh, namun dibalik kepatuhan mereka mencari kegiatan – kegiatan yang dapat mengisi waktu dan hari-hari mereka, tidak adanya bimbingan dan kontrol orangtua, anak akan terjerumus kelembah hitam, seperti anak suka mabuk- mabukan, mengkonsumsi obat- obatan terlarang bahkan sampai narkoba.

Berkaca dari pengalaman anak singkong, yang walaupun hidup sederhana, orang tua akan dapat mengantisipasi hal- hal kearah bersifat negatif, tanamakan pada anak digital nilai- nilai keagamaan disetiap sepak terjangnya, budi pekerti mulia, patuh pada orang tua, guru, dan pandai menempatkan diri ditengah – tengah masyarakatnya, sehingga anak tidak akan merasa terisolir, dan kurang kasih sayang.

 

Penulis :
Editor / Redaktur : rajudin