Diunggah tanggal 15-11-2016 07:42:13 WITA

Fenomena Majelis Ta,lim



Oleh : Wardah

Dalam hidup setiap insane ada dua sisi mata rantai yang harus diperpegangi dan dijalankan, yaitu Hablumminallah (hubungan kepada Allah SWT) dan Hablumminnas (Hubungan kepada sesame manusia), keduanya tidak boleh terlepas, karena merupakan ujung tombak keberhasilan dan keselamatan manusia di dunia dan akherat.

Untuk menjalanakan kedua sisi hubungan tersebut Allah telah mengirim seorang Rasul yang menjadi panutan , penuntun dan suri teladan yang sempurna, , dan sebagai pegengan manusia, Allah mengirim Al-Qu’an dan Al-Hadits yang ditinggalkan Rasulullullah, buat manusia.

Manusia diperintahkan untuk selalu belajar dan belajar, seperti Hadits nabi,” Utlubul I’lma Minal Mahdi Ilal Lahdii,” yang artinya ,”Tuntutlah Ilmu dari Buaian Sampai Keliang Lahat,” bahwa manusia diwajibkan mencari ilmu pengtahuan seumur hidup, “Long Life Educatioa,”(Pendidikan Seumur Hidup)

Pada usia 40 tahun menurut psikologi Agama merupakan umur kebijaksanaan, kesadaran dari hal- hal negatif. Kebanyakan orang di Kalimanatan – Selatan banyak menimba ilmu pengetahuan agama di majelis- majelis ta’ lim pada usia- usia tersebut.

Maraknya mejelis ta’lim yang ada diwilayah Kalimantan Selatan bak jamur dimusim hujan, ada baiknya kita tengok pengaplikasian pengetahuan yang mereka dapat dalam kehidupan.Banyaknya pengajian ditiap daerah membuat masyarakat nampak semakin sibuk, dalam meniti ditiap hari dalam kehidupan, dari Senin sampai hari minggu, ada 3 samapai 4 kali menghadiri, mendengarkan apa yang disamapaikan oleh tuan- tuan guru yang ada dipengajian.

Namun bagaimana penerapan ilmu yang mereka dapatkan dalam kehidupan ?,banyak diantara hubungan pada sesama mereka abaikan, adanya percekcokan yang disebabkan oleh berbagai persoalan, yang membuat mereka mengabaikan ilmu pengetahuan yang didapatkan.

Berbagai tujuan yang diniatkan orang- orang ketika pergi ke Majelis ta’lim, diantaranya ada yang ingin menampilkan gemerlapnya perhiasan, indahnya pakaian yang dikenakan, mengharapkan sajian yang didapatkan, bahkan ada yang menganggap kepergian kemajelis ta’lim sebagI plesiran.

Mirisnya lagi banyak diantara mereka tidak memahami hubungan pada sesame yang diajarkan, pergi ke majalis ada yang tidak saling menyapa, bahkan bertahun tahun saling bermusuhan, padahal hampir tiap hari mendengar wejangan dari tuan- tuan guru, kemana perginya ajaran yang mereka dengarkan, apakah hanya sekedar ikut-ikutan, ini merupakan fenomina yang mesti dipertanyakan.

Terlebih sepulang dari pembacaan majelis ta’lim, hampir semua menggunjing disepanjang perjalanan pulang, seakan kegiatan tersebut jadi satu kebanggaan, keaiban sesame jadi santapan, padahal tidak terasa telah memakan daging bangkai nanti diakherat sana

Hablumminallah adalah hal pertama yang wajib dilaksanakan tiap insan, ibadah seperti rukun Islam,dan rukun Iman,dengan mudah dikerjakan, tetapi pemahaman tentang hubungan silaturrahmi sangat jauh dari harapan, banyak orang hanya memikirkan kepentingan dan kesenangan yang membuat mereka mendapat pujian.

Pentingnya memberi kesadaran pada masyarakat, bagaimana pengamalan ilmu yan didapatkan, agar tidak sia- sia hidup dalam kehidupan, amalan dan ibadah tidak menjamin seseorang akan masuk syurga, ketika masih bersangkutan persoalan dengan orang lain, bermusuhan dibolehkan , tapi tidak boleh dari tiga hari, selebihnya akan dilaknat Allah, apabila tidak saling memaafkan.

Tetapi tidak semua orang yang pergi ke majelis ta’lim tidak benar, masih ada segelintir orang yang masih sadar, betapa pentingnya pengamalan pengetahuan yang didapatkan, mereka pergi dengan menuntut ilmu agama, dan mencari keridhaan Allah semata, mereka inilah orang- orang yang beruntung.

Tugas ulama dan tuan guru telah dilaksanakan, mereka telah menyampaikan hal- hal yang menjadi kewajiban, tinggal bagaimana menanamkan kesadaran bahwa ilmu pengatahuan wajib diamalkan, seperti Hadits Nabi yang menyatakan,” Al- Ilmu bila A’malin, Kassajari bila Tsamarin,” artinya,” Ilmu yang tidak diamalkan, laksana pohon tak berbuah,”.

Sebagai seorang guru yang berada dilingkungan Kementrean Agama, melihat fenomina tersebut, guru berusaha memberi kesadaran pada orang- orang dilingkungan sekitar, agar pengetahuan yang didapat, tidak saja didengar tapi benar- benar diaplkasikan dalam kehidupan.

Agar pengetahuan lebih bermakna sejak dini ditanamkan pentingnya pengetahuan, dan pentingnya pengamalan ilmu yang didapat pada siswa yang kita ajari, dengan demikian diharapkan siswa dan siswi akan menjadi generasi yang mamiliki imtak (iaman dan takwa), jujur, pintar, dan mampu jadi pemimpin yang disegani oleh lawan , dan dihormati oleh kawan

 

Penulis :
Editor / Redaktur : rajudin