Penerapan Disiplin Sekolah Bagi Siswa Dan Tantangannya
Oleh : Jamaludin Nasrullah, S.Ag.
(Guru Bidang Studi Bahasa Arab Pada MAN Haruai Kabupaten Tabalong)
Setiap sekolah sudah dipastikan memiliki tata tertib bagi siswa untuk dipatuhi dan diterapkan sebagaimana mestinya agar semua siswa menjadi disiplin dalam berbagai hal, karena disiplin merupakan pangkal utama menuju keberhasilan. Tata tertib yang dibuat pada setiap sekolah merupakan produk yang dibuat bersama, disetujui dan ditanda tangani Komite Sekolah mewakili orang tua/wali siswa, Kepala Sekolah dan OSIS selaku perwakilan siswa.
Tidak sedikit tata tertib sekolah bagi siswa yang hanya dijadikan pajangan administratif bagi sebuah sekolah selaku lembaga pendidikan. Tata tertib sekolah yang sejatinya diterapkan hanya dijadikan sebatas simbol adanya proses pendidikan. Hal tersebut dikarenakan beberapa faktor sekaligus menjadi tantangan bagi pihak terkait selaku penyelenggara pendidikan di sebuah sekolah, antara lain yaitu :
1. Tidak adanya guru yang mau disibukkan untuk menangani penerapan tata tertib sekolah;
2. Tidak adanya guru yang berani bertanggung jawab atas konsekuensi yang terjadi dari penerapan tata tertib sekolah;
3. Tidak adanya kekompakan para guru dalam menyikapi berbagai pelanggaran tata tertib sekolah;
4. Tidak adanya dukungan penuh dari Komite Sekolah, orang tua siswa dan masyarakat dalam menerapkan tata tertib sekolah.
1. Tidak adanya guru yang mau disibukkan untuk menangani penerapan tata tertib sekolah
Guru seperti ini beranggapan bahwa tugas dan fungsinya hanya sebatas mengajar dan melengkapi perangkat pembelajarannya dan hadir di sekolah sebagaimana mestinya sesuai aturan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Terkadang guru yang punya prinsif semacam ini tidak bisa juga disalahkan 100 persen, karena pada kenyataannya saat diadakan supervisi mengajar dan pembinaan guru oleh pengawas sekolah, hal-hal yang diperhatikan hanyalah masalah absensi kehadiran sebagai ASN dan administrasi mengajar guru meliputi Program Tahunan, Silabus, Rencana Program Pembelajaran dan lain-lain. Sedangkan tentang penerapan disiplin siswa di sekolah tidak pernah dipermasalahkan. Apalagi kalau kegiatan supervisi mengajar dan pembinaan kepegawaian hanya dilakukan jarak jauh tanpa melihat langsung keadaan di lapangan serta tidak pernah melakukan evaluasi dan solusi untuk kemajuan proses pendidikan.
Faktor seperti ini merupakan tantangan tersendiri bagi para penyelenggara pendidikan agar disiplin sekolah bisa dilaksanakan sebagaimana mestinya.
2. Tidak adanya guru yang berani bertanggung jawab atas konsekuensi yang terjadi dari penerapan tata tertib sekolah
Apapun yang kita lakukan, dimanapun dan terhadap siapapun kita melakukan suatu tindakan, sudah barang tentu tidak akan lepas dari resiko. Yang terpenting adalah, seorang guru melakukan tindakan sudah berdasarkan aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah baik secara tertulis ataupun tidak tertulis. Tetapi pada kenyataan di lapangan, ketika salah seorang guru melakukan tindakan sanksi kepada siswa yang melanggar tata tertib sekolah, tidak sedikit ditemukan para guru bahkan kepala sekolah selaku pimpinan dan komite sekolah sebagai perwakilan orang tua/wali siswa melakukan “cuci tangan”, tidak mau diikutkan dalam menanggung jawabi sebuah tindakan, malah misalnya komite sekolah dengan serta merta melaporkan guru yang bersangkutan kepada atasan yang lebih tinggi tanpa mau duduk bersama lebih dahulu dengan guru tersebut. Jika di sebuah lembaga pendidikan terjadi semavam ini, sudah dipastikan tata tertib sekolah tidak akan berjalan sebagaimana mestinya dan berdampak semakin banyak siswa yang tidak patuh dengan tata tertib sekolah.
3. Tidak adanya kekompakan para guru dalam menyikapi berbagai pelanggaran tata tertib sekolah
Sebuah sekolah selaku instansi penyelenggara pendidikan ibarat dalam satu kapal yang berlabuh menuju sebuah tujuan. Mulai nahkoda kapal sampai kepada penumpang sudah pasti harus memiliki tujuan yang sama. Untuk mencapai tujuan dibutuhkan kekompakan serta kesatuan visi dan misi. Sebuah sekolah tidak akan bisa menerapkan tata tertib siswa kalau ada satu saja komponen di dalamnya yang tidak mendukung. Misalnya, ketiga seorang guru yang diberikan wewenang melakukan tindakan sanksi kepada siswa yang melanggar tata tertib sekolah, muncul oknum guru yang serta merta membela di hadapan dan mengatakan kalau siswa tersebut tidak seharusnya diberikan tindakan semacam itu, padahal guru yang memberikan sanksi sudah mengacu kepada prosedur yang ada. Artinya oknum guru tersebut telah membela siswa yang salah. Boleh jadi siswa itu kerabatnya atau anak binaannya selaku wali kelas.
4. Tidak adanya dukungan penuh dari Komite Sekolah, orang tua siswa dan masyarakat dalam menerapkan tata tertib sekolah
Dalam sebuah lembaga pendidikan, peran serta Komite Sekolah, orang tua siswa dan masyarkat sangatlah penting, khususnya dalam hal penerapan tata tertib sekolah. Selaku orang tua yang sudah menyerahkan anaknya ke suatu sekolah, seharusnya percaya penuh dengan lembaga pendidikan tersebut. Cuma terkdang masih ditemukan di lapangan, ada orang tua yang suka komplin dengan tindak tanduk guru tang menerapkan disiplin sekolah walau sekecil apapun. Bahkan Ironisnya, ada saja masih kita temukan Komite Sekolah yang ikut mendukung oknum orang tua semacam ini. Malah ironisnya membuat pernyataan selalu membawa atas nama mayoritas orang tua/wali siswa dan masyarakat sekitar untuk bisa melegalkan pernyataanya. Padahal ia sendiri selaku Komite Sekolah hampir-hampir tidak pernah berinteraksi langsung dengan mereka yang diatasnamakan tersebut.
Penulis :
Editor / Redaktur : rajudin