Diunggah tanggal 08-11-2016 07:13:52 WITA

Sungaiku Kehidupanku



(Oleh: Hj.Wardah, S. Pd. I Guru MIN Handil II Tambak Sirang)

Tersebutlah Bu Hasnah, penjual ikan sepat kering musiman, dilahirkan pada tanggal 18 Nopember 1975 silam di Desa  Handil Empat Wilayah Kecamatan Gambut, 41 tahun umurnya, walaupun hidupnya penuh dengan kabut persoalan, pekerjaan  hanya serabutan sebagai pencari ikan sepat pada malam hari, dan siang harinya dijadikan ikan asin yang paling laris apabila dia berjualan, baik dikampungnya ataupun di pasar Gambut wilayah Kecamatan, dengen hidup yang pas-pasan, walaupun sudah punya suami yang selalu  mendampingi, namun pekerjaan tak dimiliki, sedang ketiga anaknya masih di usia balita, hanya satu orang yang baru menjelang dewasa, tetapi,  Dia selalu berusaha untuk  selalu berjuang dalam menghadapi tantangan kehidupan, hidup dari kalangan masyarakat biasa, dengan tangung jawab luar biasa, mampu menghadapi tantangan zaman, dan getirnya kehidupan.Tersebutlah Bu Hasnah, penjual ikan sepat kering musiman, dilahirkan pada tanggal 18 Nopember 1975 silam di Desa  Handil Empat Wilayah Kecamatan Gambut, 41 tahun umurnya, walaupun hidupnya penuh dengan kabut persoalan, pekerjaan  hanya serabutan sebagai pencari ikan sepat pada malam hari, dan siang harinya dijadikan ikan asin yang paling laris apabila dia berjualan, baik dikampungnya ataupun di pasar Gambut wilayah Kecamatan, dengen hidup yang pas-pasan, walaupun sudah punya suami yang selalu  mendampingi, namun pekerjaan tak dimiliki, sedang ketiga anaknya masih di usia balita, hanya satu orang yang baru menjelang dewasa, tetapi,  Dia selalu berusaha untuk  selalu berjuang dalam menghadapi tantangan kehidupan, hidup dari kalangan masyarakat biasa, dengan tangung jawab luar biasa, mampu menghadapi tantangan zaman, dan getirnya kehidupan.Di suatu sore saya berangkat kesebuah rumah yang sudah tua, dengan atap daun rumbia, dan lantai teras dari bambu sederhana, saya tiba didepan pintu rumah, ''tok-tok- tok, Assalamualaikum,'' kata saya berharap ada jawaban dari dalam rumah, tak lama kemudian terdengar bunyi langkah  dari dalam rumah, diiringi suara lirih, ''waalaikumsalam,'' prak, prak, prak, suara langkah kaki, tampak seorang ibu paruh baya muncul dari dalam rumah seraya menyapa, ''apa kabar bu?'' ...beginilah keadaan kami, saya sudah mengerti maksud dan tujuan ibu Wardah, datang kerumah kami'' dan wawancarapun saya mulai.Saya merasa senang dengan kedatangan ibu, karena secara tidak langsung saya dapat mencurahkan perasaan saya saat ini, kata Hasnah, kepada saya yang sebelumnya telah membuat janji untuk bertemu dikediamannya ''Silahkan ibu bercerita tentang profesi ibu yang amat membantu perekonomian keluarga ibu'' kata saya mempersilakan.Dengan mata yang sayu dan mata mulai berkaca- kaca bu Hasnah mulai bercerita. ''Malam yang pekat, ketika para malaikat penjaga malam berjaga, untuk mencatat amal perbuatan mahkluk Tuhannya yang tak seberapa,  saya  turun  dari rumah dengan membawa gayung dan jaring untuk mencari ikan dipesisir sungai, meskipun kaki saya nampak lelah, saya tetap berjalan perlahan menyusuri tepian jalan yang sunyi, panjang dan kelam, dengan penuh harapan'' katanya.Dia melanjutkan, ''Saya pandangi arah sungai yang agak lebat dan rimbun oleh pepohonan  dan enceng gondok yang tebal disekitar air sungai, prraakk.., gayung agak besar saya letakkan, perlahan jaring ikan saya turunkan, selanjutnya perlahan saya turunkan kaki saya air sungai yang tampak  tenang dengan kaki yang tampak lelah memikul beban kehidupan turun dalam kebisuan malam, Prooookkkk, ssseerrrr, suara jala yang disodorkan terkena air,'' ssraaakkkk, jala diangkat,” menggelapar- gelepar ikan yang terkejut ketika berada diatas jala, meloncat- loncat seakan tak percaya kalau dia sudah berada diatas  permukaan air.Sambil menghela nafas panjang, ia meneruskan ceritanya, hampir 20 ekor ikan sepat saya dapatkan pada susukan  pertama, dengan senyum memelas dan mengucap syukur, saya  meneruskan langkah kaki dimalam yang buta, diiringi suara jengkrek yang menambah suasana malam semakin terbungkus keheningan, sepanjang 1 kilometer langkah kaki, susukan- demi susukan saya lakoni untuk mendapatkan ikan yang banyak agar pengahasilan saya  semakin meningkat dan mampu mencukupi kebutuhan anak dan keluarganya.Diketika tinggal seperempat malam tersisa, gayung saya hampir penuh terisi dengan ikan – ikan sepat yang sebagian sudah mati, sebagian lagi menari- nari diatas sebagian ikan yang lain, ''prookk'' gayung  saya tutup dengan tutup panci diletakkan diatas gayung agar ikan tidak meloncat keluar, sambil duduk diatas jembatan salah satu warga, saya  menghela napas panjang, sambil beristirahat sejenak melepas lelah,  saya  memandang sepanjang sungai yang dilalui, sambil berkata lirih,'' ohh sungaiku, disinilah tertumpu harapanku, rezeki keluargaku, harapan belanja anak- anaku, semoga kau akan selalu mengalir sepanjang tahun, semoga Allah selalu menambah kapasitasmu, sehingga rezeki kami tidak akan tertahan dengan  kekeringanmu, keberadaanmu menjamin makan dan belanja  semua anak, dan keluargaku bertumpu padamu,''.Diayunkannya kembali langkah kaki menuju rumah tempat berlindung dirinya dan keluarganya, dengan langkah lelah sambil menahan  lapar dibawa hasil tangkapannya kerumah, dicucinya dengan bersih, lalu diletakkan diujung teras rumah yang terbuat dari bambu, berbarengan dengan suara azan subuh yang mendayu, diambilnya air wudhu, ''seeerrrrr, bunyi gemercik air memecah keheningan'', selesai berwudhu digelarnya sajadah usang pemberian tetangganya, selesai menghadap rob-Nya dan  dilantunkankan doa panjang dan permohonannya.Selesai menghadap Allah, saya  membangunkan anak- anak yang tertua, untuk membantu  menyiang ikan semampunya, sambil berkata lirih. ''Ayo bangun Salasiyah, cepat ambil air wudhu, lalu bantu ibu, supaya pekerjaan buat menopang hidup kita cepat selesai,''.Setelah  terbangunnya anak- anak  semua,  saya duduk dilantai, sambil memegang pisau dapur, satu persatu  ikan diambil untuk disiang,  sambil mengatur anak- anaknya yang baru bangun bu Hasnah  memberi nasehat agar selalu salat tepat waktunya, mengambil air wudhu di sungai sumber kehidupannya. ''Sembahyanglah segera, agar Allah tidak akan marah pada kita, supaya air sungai yang dimilikinya, tidak semena- mena dikeringkannya,''.Selesai menyiangi ikan- ikan, saya  membersihkan dan mnggaraminya, menaburi garam dengan merata, diatas ikan- ikan hasil tangkapan,Seerrrrrr, sedikit demi sedikit ikan  dibolak- baliknya, ''dah, sekarang sudah selesai, tinggal menjemurnya, agar menjadi ikan sepat asin yang banyak dicari dan   memiliki banyak  pengemarnya,''.''Alhamdulillah hari tampak akan panas, matahari akan memancarkan cahaya dengan teriknya, bersyukurlah pada yang kuasa, yang menamapakan kasih sayang tanpa pamrihnya, '' selang setengah jam, ikan-ikan di cucinya dan dijemurnya, sampai habis tidak tersisa, satu persatu disusunnya ikan berjejer rapi dipenjemurannya. ''Mudah- mudahan setelah kering, semua ikan  keringnya akan habis terjual, sehingga semua kebutuhan terpenuhi,''.Dengan mata berkaca- kaca, bu Hasnah mengakhiri ceritanya sambil berucap. ''Beginilah kehidupan yang saya  lakoni setiap hari, tanpa pernah menyerah pada nasib yang menggariskannya dibawah garis kemiskinan,''. Kemiskinan bukanlah untuk diratapi dan disesali, namun kemiskinan merupakan cambuk bagi kehidupan untuk berusaha, agar tetap menjalani kehidupan dengan penuh rasa syukur. Bu Hasnah merupakan sososok perempuan tangguh yang tidak pernah bergantung pada suami, apapun dijalani tanpa menuntut yang menjadi haknya, dan sungai menjadi urat nadi kehidupannya, selama sungai mengalir, rezeki akan datang menghampirinya, dan keperluan keluarga akan selalu dapat dipenuhinya. ''Kebahagian adalah milik orang- orang yang pandai bersyukur,'' pungkasnya mengakhiri wawancara.

 

Penulis :
Editor / Redaktur : rajudin