Diunggah tanggal 01-11-2016 07:28:11 WITA

GURU DIMATA SISWA (Dulu, Sekarang dan Akan Datang)



Oleh : Jamaludin Nasrullah, S.Ag.

(Guru Bidang Studi Bahasa Arab Pada MAN Haruai Kabupaten Tabalong)

Pada diri seorang guru tidak pernah ada tanda jasa yang melekat di tubuhnya. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Guru adalah sebuah profesi yang banyak menghabiskan hidupnya untuk membentuk manusia cerdas dan berakhlak mulia. Lelah letih yang menyertainya akan dirasakan dan dinikmatinya sebagai sesuatu yang manis dan indah. Andai saja ada tanda jasa yang diberikan kepada guru dalam bentuk simbol-simbol penghargaan, niscaya seluruh tubuh bahkan seisi rumahnya tidak akan cukup menampung begitu banyaknya tanda jasa yang harus diterimanya. Sebagai contoh, guru mulai mengenalkan nama-nama benda yang ada di sekitar, guru mengenalkan dan mengajarkan huruf demi huruf, huruf yang dirangkai menjadi kata, kata yang dirangkai menjadi kalimat, kalimat yang dirangkai menjadi cerita, angka demi angka, satu angka menjadi banyak dan kurang, dan seterusnya hingga seorang siswa sebagai anak didiknya menjadi tahu apa-apa yang belum diketahui.

Bagaimana sosok seorang guru dimata sisiwa selaku anak didik ? Jawabannya tentu bervariasi sesuai dengan perkembangan zaman. Penulis mencoba memberikan deskrepsi sesuai dengan pengamatan di lapangan.

1. Guru Di Mata Siswa Zaman Dahulu ( Tahun 1990 ke bawah)

Sekitar tahun 1990, 1989 dan terus ke bawah, sosok seorang guru merupakan sosok yang sangat dihargai, dihormati, disegani dan dimuliakan. Seorang siswa sangat memuji gurunya, mereka menjadikan guru sebagai sosok idola. Ketika di luar jam belajar di sekolah, seorang siswa tidak berani melewati jalan yang di situ ada guru mereka. Bukan mereka takut, tapi kebanyakan dari mereka malu bertemu guru mereka kalau-kalau dari sikap dan perkataan mereka ada yang tidak pantas saat berhadapan dengan guru. Andaipun mereka harus berpapasan dengan guru, mereka sudah pasti menundukkan kepala dengan penuh rasa hormat.

Guru-guru zaman dahulu memang identik dengan ketegasan. Mereka selalu “marah” apabila ada siswanya yang tidak sesuai dengan aturan yang ada. Kemarahan seorang guru zaman dahulu pastinya selalu beralasan. Mereka memarahi siswanya tidak dengan emosi tetapi memarahi dengan perasaan penuh kasih sayang.

Metode mengajar guru zaman dahulu biasa-biasa saja, tetapi guru zaman dahulu mampu melahirkan generasi bangsa yang mulia dan bermartabat. Semua itu tentu tidak terlepas dari adanya penghargaan seorang siswa kepada gurunya. Para siswa zaman dahulu sangat menghindari sikap dan ucapan yang bisa menyakitkan hati maupun fisik gurunya.

2. Guru Di Mata Siswa Zaman Sekarang (Antara tahun 1991 – 2016)

Masa sekarang (kisaran tahun 1991 – 2016), perkembangan zaman dan teknologi semakin pesat, berbagai Undang-undang pun mulai lahir. Sikap dan perbuatan masyarakat termasuk siswa di sekolah pun mulai mengalami pergeseran. Perjalanan waktu dan kecanggihan teknologi secara langsung maupun tidak langsung mulai mengubah tatanan sosial masyarakat. Seorang siswa mulai banyak yang tidak bisa lagi menghargai gurunya. Mereka mulai berani melawan guru, baik dari sikap, ucapan maupun perbuatan. Kreatifitas dan idealisme seorang guru mulai dibatasi oleh Undang-undang dan berbagai peraturan. Hasilnya sekarang, kita tidak bisa menutup mata, kenakalan remaja yang didominasi para siswa mulai meramaikan masyarakat. Sosok guru sekarang seakan bukan lagi sebagai pahlawan pendidikan. Sosok guru sekarang seakan hanya dianggap sebagai fasilitator atau batu loncatan siswa menuju masa depannya. Kunsekuensi yang dirasakan sekarang, berkah suatu ilmu pengetahuan mulai dicabut oleh Allah SWT. Sekarang banyak siswa yang pintar dan cerdas, tetapi tidak memiliki tata kerama yang sesuai dengan ajaran agama. Parahnya, orang tua yang seyogyanya ikut membantu dunia pendidikan, justru kebanyakan orang tua sekarang lebih berpihak kepada anaknya sebagai siswa, terlepas benar atau salah yang dilakukan anaknya. Apalagi jika orang tua siswa itu adalah seorang pejabat atau orang terpandang.

3. Guru Di Mata Siswa Akan Datang (Tahun 2017 dan seterusnya)

Jika kita membandingkan sosok guru di mata siswa pada zaman dahulu dan sekarang, kita bisa menjawab bahwa di masa akan datang sosok guru di mata siswa itu bisa lebih baik atau lebih buruk, semua tergantung dari kita semua khususnya mereka yang tergabung dalam sebuah sistem pendidikan. Kemana mau dibawa generasi bangsa ini, ke sanalah arah tujuan pendidikan yang akan terlahir.

Kita hanya bisa berharap dan berdo’a kepada Allah, semoga generasi bangsa Indonesia akan lebih baik dan lebih dari hari-hari sebelumnya, amin.

Penulis :
Editor / Redaktur : rajudin