Rusmadi, Pemuda Teladan Diakhir Zaman
Oleh : Hj.Wardah, S.Pd. I (Guru di Min Handil II Tambaka Sirang)
Seorang pemuda berusia sekitar 30 tahun, tidak sampai meraih gelar sarjana, hanya sampai Diploma 2 di Perguruan Tinggi swasta STAI Darussalam Martapura, tetapi mampu berkiprah diberbagai sisi kehidupan dimasyarakat, sosial dan keagamaan, Rusmadi namanya, lahir di Guntung Papuyu,tanggal 08 Agustus 1986, diusia seperti dia pemuda kebanyakan mengertinya hanya hura- hura, dan bersenang- senang saja, namun tidak bagi Rusmadi, kegiatannya disetiap hari mengajar disebuah Madrasah swasta, menjadi kaum disebuah Mushalla, menjadi ibu bila tiba dirumahnya, karena ibu tercinta telah tiada, rumah yang hampir reut menjadi tempat tinggalnya, bersama ayah dan satu saudara kakak laki-lakinya.
Ketika subuh menjelma, sang fajar merah mulai menampakkan dirinya, pertanda perjalanan malam hampir usai, Rusmadi terbangun dari tidurnya yang tidak seberapa lama.....kriiiikkkk bunyi daun pintu yang sudah usang mulai terbuka, Rusmadi berjalan perlahan menuju belakang rumah untuk mencuci muka, membersihkan diri alakadarnya, terakhir mengambil air wudhu yang tak pernah dilupakannya,” ssssrrrrrr bunyi gemercik air wudhu yang membasahi muka , tangan samapai kakinya, selesai berdoa, dengan sendal jepitnya yang sudah lusuh, Rusmadi bergeges berjalan menuju rumahnya untuk segera pergi ke Mushalla Hidayatul Mustaqim tempat favoritnya.
Ketika semua orang masih dibuai malam, Rusmadi mengambil sapu dan pelnya, untuk membersihkan mushalla kesayangannya sambil membuka radio kecil yang selalu dibawnya, untuk menunggu detik- detik kumandang azan yang selalu ditunggunya,diputarnya volume radio krakk...kraakkk...kraakkk suara radio yang sudah tua, sang pemuda mencari stasiun radio yang senantiasa melatunkan ayat- ayat Alqur’an surah As-Sajadah terdengar, membuat Rusmadi terenyuh dan tersadar betapa agung sang Pencipta.
Disubuh yang syahdu, selesai membersihkan segala sudut Mushalla, Rusmadi menggelar sajadah ditempat imam yang menjadi tempatnya, terlebih disubuh jum at pastilah Rusmadi yang akan menjadi imamnya, karna diantara orang sekampung hanya dia yang hafal surah sajadah yang biasa dilakukannya,
Terdengar suara sirine diradionya ''Ngiiiiiiiiiiiinnnngggg,'' sireni panjang berbunyi tanda shalat subuh telah tiba, bergegas Rusmadi berdiri ditempat mikroponnya ''Allahu Akbar,' Allahu Akbar,'' dan seterunya, terakhir lafal yang dilafazkannya ''Assholatu Khairum minannauuumm, Asholatukhairumminananauummm, Allahu Akbar, Allahu Akbar, lailahaillallah,''
Selesai azan pertama Rusmadi salat sunat qobliyah 2 rakaat, duduk besila, mengambil mikropon dan mengucapkan tasbih/bacaan yang bermakna ajakan pada kaum muslimin, untuk menunaikan salat subuh,dan meminta ampunanan serta kasih sayang dari sang khaliknya' 'ya hayyu ya qayyum, lailahailla anta,'' diucapkannya 40 kali, lalu diteruskannya, ''Lailahaillalah humalikullakul hakulmubiin,'' diucapkanya 100 x dan terakhir dengan syahdunya dibacanya kalimat pujian dan ampunan untuk sang khalik, ''Subhanallah wabihamdih, Subhanallahhiladzim Astagfirullah,''
Selesai mengumandangkan iqamah sang pemuda juga yang menjadi imamanya, tanpa diminta oleh para warga,sang pemuda memulai mengimami sholat subuh berjamaah dengan khusyu nya,disetiap subuh jum at selalu mengerjakan sujud sajadah, selesai salam terdengar ucapan lirihnya, ''Assalamualaikum warahmatullah, Assalamualaikumwarahmatullah,'' pertanda salat telah selesai.selesai wiritan dan amalan membaca surah yasiin dan Waqiah, sang pemuda berdiri dan berucap kepada para makmumnya, ''besok malam kita membaca burdah selesai magrib, tolong sampaikan pada anak- anak pian semua,'' kata sang pemuda
Selesai mematikan semua lampu dan menutup semua pintu Mushalla, bergegas menuju rumahnya yang rusuh,bersiap memasak sambil membersihkan rumah alakadarnya, ''kraaak daun pintu terbuka, dilihatnya sang ayah yang sedang sakit- sakitan, akibat penyakit paru- paru yang dideritanya, ''kreseek....kreseeek,'' kantongan kresek dibukanya, diambilnya obat beberapa ''Minumlah lah obat ini ayah, agar cepat sembuh dari sakitmu,'' katanya lirih.
Dengan terbungkuk- bungkuk sang ayah mengambil obat dan meminumnya, sang ayahpun makan pagi bersama kakak laki- laki seadanya, nasi dan lauk ikan gabus hasil pancingan sore kemaren. ''Makan yang banyak ayah, biar cepat sembuh ayah,dapat beraktifitas, bekerja disawah,'' pungkasnya
Sekitar Pukul 07.00. Rusmadi berkemas hendak melaksanakan tugas ke Madrasah yang menjadi tempat idolanya, sebelumnya sholat dhuha tentunya.dengan berjalan kaki sekitar satu kilometer, Rusmadi melangkahkan kaki turun dari rumah, Praaak...praaak....praaaakkk, langkah kakinya teratur berjalan sambil menyapa orang yang ia lintasi,dengan senyum ramah dan memelas.
Sampailah Rusmadi ke Madrasah kesayangannya, ''tekk,'' kunci pagar madrasah dibukanya, walaupun seorang guru honorer dia mampu hadir lebih awal dari guru- guru lainnya, diiringi beberapa murid Rusmadi membuka kembali kunci ruang kantor ''teekk,'' kunci kantor pun terbuka, ''kreeek bunyi pintu terbuka,'' masuklah Rusmadi keruangan sambul mengibas- ngibaskan serbet penghilang debu,dan melatakkan tasnya, lalu turun kembali ke halaman untuk memasang sang saka merah putih lambang kesucian dan keberanian bangsa,''kraakk...kraakk...kraakk tali dinaikan perlahan sampai naik menjulang tinggi keangkasa raya. Rusmadi melangkah kearah kelas- kelas dengan dibantu beberapa siswa untuk membuka kelas,Rusmadi berkata, ''Fauzan kamu buka kelas I dan Kelas II saja, sisanya biar bapak yang membukanya,'' kata Rusmadi lembut
Siswa dan siwi Madrasah Al-Istiqamah amat menyayangi Rusmadi, setiap dia santai duduk diteras Madrasah murid- murid dari berbagai kelas mengellinginya, selain pengajar yang baik, dia juga pelatih pramuka dan pelati Maulid Habsy,walaupun honor seadanya dilakukannya dengan ikhlas dan sukarela.
Selain ruinitas mengajar setiap hari, Rusmadi mengikuti berbagai Majelis Ta,lim di Martapura, namun dia tak pernah lupa meninggalkan kewajiban sebagai pendidik dan pengajar bagi murid- muridnya, Hidup penuh kesederhanaan bahkan bisa dikatakan dalam ketidakmampuan, namun berkiprah lebih dimasyarakat, agama dan kehidupan sosial.
Penulis :
Editor / Redaktur : rajudin