Perlunya Terobosan Baru Dalam Metode Pembelajaran Bahasa Arab
Perlunya Terobosan Baru Dalam Metode Pembelajaran Bahasa Arab
(Sebuah Analisa Sederhana Antara Metode Klasik Dan Kontemporer)
Oleh : Jamaludin Nasrullah, S.Ag.
(Guru Bidang Studi Bahasa Arab Pada MAN Haruai Kabupaten Tabalong)
Perkembangan zaman yang semakin pesat mengharuskan seorang tenaga pendidik (guru) membuat berbagai terobosan baru dalam menggunakan metode mengajar agar tujuan pendidikan bisa tercapai sesuai yang digariskan. Jika seorang guru tetap berpegang pada metode mengajar yang terbilang tradisional, maka sudah barang tentu hasil dari sebuah proses pembelajaran tidak berhasil maksimal. Sebagai contoh, jika seorang guru masuk kelas dan mengajarkan kepada siswanya dengan menggunakan metode mencatat dan ceramah, tentu anak didiknya akan merasa bosan yang berdampak pada hasil pembelajaran itu sendiri. Tidak bisa dipungkiri, dewasa ini masih tidak sedikit guru yang berpegang teguh dengan metode mengajar seperti itu, maka bukan hal yang membingungkan jika hasil pembelajaran pun belum terbukti maksimal, termasuk pada pembelajaran bahasa Arab
Secara sederhana, metode pembelajaran bahasa Arab bisa dibagi dua macam, yaitu metode klasik (tradisional) dan metode kontemporer (modern). Kedua metode tersebut tentunya masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Menurut pandangan beberapa ahli, Metode pembelajaran bahasa Arab klasik adalah metode pembelajaran bahasa Arab yang terfokus pada bahasa sebagai budaya ilmu, sehingga belajar bahasa Arab berarti belajar secara mendalam tentang seluk beluk ilmu bahasa Arab, seperti Nahwu, Sharaf dan lain-lain. Biasanya, pembelajaran bahasa Arab metode klasik ini menggunakan metode Qawaid dan Terjemah. Metode tersebut dianggap syarat mutlak yang mendasar untuk bisa menguasai bahasa Arab.
Metode pembelajaran bahasa Arab kontemporer adalah metode pembelajaran yang berorientasi pada tujuan bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Sehingga bagi mereka yang menggunakan metode kontemporer dalam pembelajaran bahasa Arab berasumsi bahwa bahasa Arab adalah sesuatu yang hidup, yang harus dilatih terus menerus dalam pembelajaran dan di luar pembelajaran, karena ia adalah alat untuk bisa bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain. Oleh itu, metode kontemporer ini biasa digunakan dalam pembelajaran bahasa Arab melalui Metode Mubaasyarah (langsung).
Masih banyak lagi berbagai jenis metode pembelajaran bahasa Arab yang biasa diterapkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebagai guru madrasah, tentu kita harus jeli dalam memilah dan memilih metode serta teknik dalam mengajar bahasa Arab. Sebelum menentukan metode yang tepat, seorang guru perlu mempertimbangkan hal-hal seperti latar belakang siswa, baik dari segi ekonomi, sosial ataupun budaya. Faktor tersebut sangat mempengaruhi terhadap metode pembelajaran bahasa Arab yang akan diterapkan.
Seperti yang penulis singgung di atas, metode klasik dan metode kontemporer itu masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Secara sederhana bisa ditarik kesimpulan bahwa orang yang belajar bahasa Arab menggunakan metode klasik akan menguasai tata bahasa Arab secara tepat dan mampu membaca tulisan berbahasa Arab tanpa harakat serta menterjemahkannya, tetapi mereka kurang terampil dalam berbicara menggunakan bahasa Arab walaupun mereka paham ketika mendengarkan orang-orang berbicara berbahasa Arab. Sedangkan orang yang belajar bahasa Arab menggunakan metode kontemporer, mereka mampu berbicara dengan bahasa Arab, tetapi mereka kurang bisa memperhatikan aspek tata bahasa yang dipraktekkan.
Menurut hemat penulis, setelah kita memahami latar belakang ekonomi, social dan budaya siswa, sebagai guru bahasa Arab kita bisa menggunakan metode yang cocok yang juga sering dijelaskan para ahli pendidikan, yaitu metode elektik (thariiqah intiqaaiyyah) atau metode campuran. Dalam proses pembelajara bahasa Arab, seorang guru bisa memadukan antara metode klasik dengan metode kontemporer dengan tetap melihat latar belakang pesera didik tersebut. Sebagai contoh, ketika kita mengajarkan perubahan kata kerja (fi’il), guru bisa tetap mengambil ulasan dan penjelasan yang diterapkan pada metode klasik, tetapi dalam penyampaiannya, guru bisa menggunakan metode kontemporer, sehingga diharapkan para peserta didik bisa memahami penjelasan guru dengan puas dan menyenangkan.
Penulis :Editor / Redaktur : jain