Diunggah tanggal 28-09-2016 07:44:46 WITA

Menjadi Madrasah Pilihan Masyarakat



Oleh :
Hasbi Wayhie
Guru Bahasa Indonesia di MAN 2 Model Banjarmasin

Wacana perubahan nama dari MAN 2 Model Banjarmasin ke MAN Program Keterampilan sudah sejak lama bergulir. Namun, bagaimana perubahan tersebut dan sistem pembelajaran apa yang akan ditekankan, kesemua dan berbagai pertanyaan yang mungkin muncul akan terjawab setelah diterimanya surat keputusan beserta petunjuk pelaksanaannya.

Kendati demikian, sebelum membayangkan ataupun menyiapkan perubahan pelabelan dari MAN Model menjadi MAN Program Keterampilan yang tentu saja akan membawa konsekuensi logis tesendiri. Perlu kiranya masyarakat luas mengetahui, landasan, filosofi serta visi dan misi sebuah lembaga pendidikan dengan status model yang mengikutinya.

Pentingkah hal sedemikian? Menurut saya, tentu saja penting. Bukan saja karena posisi saya selaku Wakil Kepala MAN 2 Model Bidang Kehumasan. Akan tetapi, mengingat animo masyarakat yang ingin memasukkan anaknya ke MAN 2 Model sangat besar. Setiap Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jumlah calon siswa yang mendaftarkan diri ke MAN Model sudah mencapai angka ribuan bukan ratusan lagi. Asal tempat dan sekolah mereka pun bukan saja berada di sekitaran Kota Banjarmasin, tetapi juga merambah ke kota-kota se-Provinsi Kalimantan Selatan bahkan beberapa siswa ada yang berasal dari Provinsi lain.

Hal penting berikutnya yakni adanya persepsi masyarakat yang salah kaprah dengan peristilahan makna model. Ada yang menyangka bahwa Madrasah Model adalah madrasah yang didalamnya mengajarkan ilmu permodelan yang nantinya akan menghasilkan foto model-foto model bertalenta. Kejadian salah sangka ini pernah terjadi sewaktu MAN Model berkunjung ke Semarang dalam rangka mengikuti sebuah festival. Kami kira MAN 2 Model adalah MAN yang siswa-siswinya dengan calon-calon foto model ungkap panitia saat itu. Tentu saja akan banyak penafsiran lain tentang pemaknaan nama model lainnya, tergantung dari sudut pandang masing-masing individu.

Oleh sebab itu, persamaan sudut pandang bagi semua komponen dan lapisan terhadap eksistensi madrasah model merupakan sebuah keniscayaan. Secara ringkas, memang MAN Model akan berbeda dengan MAN yang bukan Model. Perbedaan itu bukan saja dari segi fasilitas, tetapi juga harusnya dari sisi mutu kualitas pembelajaran yang dijalankan. Konsep Model sejatinya diperuntukkan bagi sebuah madrasah yang menjadi barometer atau percontohan bagi madrasah lain. Untuk ukuran sekarang lazim disebut sekolah percontohan. Dengan demikian, apapun yang menjadi keputusan atau kebijakan yang diambil/diterapkan madrasah dengan label model tersebut, haruslah sebuah keputusan/kebijakan yang mampu pula diterapkan di madrasah lain. Berarti pula, sistem dan muatan pembelajaran, kebijakan kurikulum yang diterapkan serta hal-hal teknis yang berkaitan dengan pemberdayaan pendidikan semisal kegiatan ekstrakurikuler mestilah melalui hasil rancangan yang matang. Oleh karena adanya istilah Model yang merepresentasikan sebagai sebuah contoh dan sebagai sumber pengetahuan pembelajaran, maka keberadaan fasilitas Aula dan Pusat Sumber Belajar Bersama (PSBB) merupakan sebuah keharuasan. Aula akan difungsikan sebagai tempat pertemuan untuk saling berbagi pengalaman pengajaran, merumuskan kebijakan, dan saling berbagi pengetahuan. Di tempat yang disebut aula itulah guru model akan mempresentasikan hasil penelitian terkait pembelajaran serta kegiatan-kegiatan yang berbau akademik lainnya.

Begitupun dengan penggunaan kurikulum. Ketika terjadi dualisme kurikulum yang ‘keduanya seolah diamini oleh pemerintah’ maksudnya salah satu bisa dipilih entah itu KTSP maupun K 13 oleh sebuah madrasah/sekolah. Merupakan sebuah langkah yang bijaksana, MAN dengan status Model menerapkan kurikulum 2013. Bukan saja karena keterbaruan kurikulum, tetapi juga kepahaman dan kesepahaman akan lebih dahulu didapat oleh tenaga pendidik dari madrasah tersebut. Kepahaman mereka tentang bagaimana kurikulum 2013 dapat dijalankan, untuk selanjutnya bisa ditularkan atau dibagi kepada tenaga pendidik di madrasah atau bahkan sekolah lain. Itulah yang disebut pula dengan guru model sebagai guru instruktur.

Lantas apa dan bagaimana hubungannya Model dengan Program Keterampilan? Salah satu ciri madrasah model adalah dilaksanakannya program pembelajaran keterampilan. Ada beberapa program keterampilan yang diajarkan seperti keterampilan otomotif, komputer, elektronik, tata busana, tata boga. Kesemua keterampilan itu diajarkan bersamaan dengan pelajaran umum dan keagamaan.

Adapun sedikit menjawab pertanyaan terkait perubahan MAN Model menjadi Man Program Keterampilan. Wakil Kepala MAN 2 Model Banjarmasin bidang kurikulum, Sitti Rostina, menyatakan bahwa untuk sementara perubahan yang akan terjadi adalah mata pelajaran keterampilan itu sendiri akan masuk ke Parakarya, Muatan Lokal dan diajarkan juga pada lintas minat.

Tentu saja kita berharap akan banyak perubahan-perubahan dan penekanan terhadap pada mata pelajaran keterampilan. Bukan saja karena namanya MAN Program Keterampilan, tetapi juga mengingat perkembangan zaman. Yang jelas perubahan tersebut harus dan akan didesain untuk mampu menjawab tantangan zaman. Memang, apa tantangannya? Tantangannya yakni bagaimana sebuah madrasah berhasil membekali siswa mereka dengan berbagai skill/keahlian dan juga dalam menjalani kehidupan alumni mereka tidak kehilangan pedoman agama dan norma yang berlaku di masyarakat. Hal ini akan sesuai dengan salah misi MAN 2 Model sekarang yakni menyelenggarakan pendidikan yang terpadu dunia dan akhirat. Lengkap bukan?

Penulis :
Editor / Redaktur : jain