kalsel.kemenag.go.id




Diunggah tanggal 19-09-2019 10:07:14

Si Jago Merah dan Kabut Asap





Dalam Al-Qur`an Allah SWT berfirman :Artinya. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.(QS.Ar-rum 41).

Semua orang yang hidup dimuka bumi ini,yang namanya ujian dan cobaan,tak akan luput/lepas dari kehidupan manusia itu sendiri,sejak zaman nabi Adam As hingga zaman Rasulullah Muhammad  SAW,ujian dan cobaan selalu datang selih berganti ,menghadang dan menghujam,namun yakinlah semua itu,berasal dari Tuhan sebagai bentuk,teguran,peringatan,ujian,cobaan bisa juga berupa azab atau siksa,bagi insan-insan yang bertaqwa dan durhaka.

Bangsa kita Indonesia akhir-akhir ini,telah banyak sekali dilanda bencana,diantaranya “Kebakaran/Si Jago Merah Yang berujung kabut asap“ Bencana ini merupakan musibah yang sangat dahsyat juga mengerikan dan mudah sekali terjadi,asal terdapat sumber api, oksigen apalagi kalau ditambah bahan bakar.Api suatu saat bisa jadi teman dan juga bisa jadi lawan,kalau kita lengah,kurang hati-hati dalam menggunakannya “api kecil teman dan api besar lawan”Adapun Bagian-bagian pemicu kebakaran seperti,api,bahan bakar(LPJ)korsleting listrik,ini semua sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari,kita tak bisa hidup tanpa adanya bagian-bagian tersebut.Kebakaran merupakan peristiwa yang sering terjadi dimana-mana,baik lahan maupun bangunan,melanda kapan saja dan dimana saja tak pandang bulu,hutan,persawahan ,lahan kering,lokasi tambang minyak,permukiman penduduk dan lain-lain.

Sehingga menimbulkan kerugian yang sangat besar dan mengerikan bahkan ada yang terpanggang nyawanya tak  bisa diselamatkan .Di Indonesia,kebakaran banyak terjadi ketika musim kemarau tiba(sekarang ini),terutama dihutan,persawahan dan pemukiman,kerugian pun sangat besar,oleh karena itu masalah kebakaran ini harus mendapat perhatian serius, dari semua pihak yang berkompeten dibidangnya,langkah-langkah preventif/pencegahan kebakaran harus diupayakan mulai dari masyarakat kelas bawah dan menengah ,saling bahu membahu,kerja sama dari semua unsur,selalu dihimbau atau diperingatkan jangan sampai membakar/membuka lahan pertanian dengan cara membakar( KARHUTALA) yang berakibat kabut asap melanda dimana-mana, semua aktivitas akan terhambat,kesehatan pun akan terganggu seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut ( ISPA),Toh kerugian akibat kebakaran/ jago merah ini berdampak pada semua lapisan masyarakat itu sendiri.

Sebagaimana Ayat tersebut diatas yang penulis kemukakan.QS.Ar-rum ayat 41. Kasus kebakaran ini sudah menjadi langganan tiap tahunnya,bagi bangsa kita ini,yang menghasil kan kabut asap sangat banyak yang membentuk selimut kabut yang menyebar sejauh ratusan kilometer hingga kenegeri tetangga Malaysia dan Singapore,sunguh sangat menyedihkan sekali.

Sebagai manusia yang  normal tentunya,semua becana apapun pasti ingin dihindari oleh siapapun,namun kadangkala bencana itu justru muncul secara tiba-tiba tanpa kita sadari dan memberi isyarat apapun.Kehadiranhya memberikan akibat yang luar biasa bagi kehidupan kita,baik berupa materi ataupun psikologis.

Kehilangan harta benda,nyawa,hancurnya kekayaan manusia,merupkana akibat yang telah lazim kita saksikan ulah ,si Jago Merah ( sebutan untuk api yang tidak terkendali).Untuk memahami tentang bencana kebakaran ini maka secara sederhana, di klasifikasikan jenis-jenis kebakaran, hal ini sangat penting  dalam upaya penanganan atau pencegahan ketika terjadi kasus  kebakaran tersebut.Kebakaran kelas A; kebakaran kelas ini secara dominan ditimbulkan oleh benda-benda padat,seperti,kertas,kayu,plastic,karet,busa dll.

Ini sering terjadi melanda perumahan padat penduduk,pasar,perkantoran hutan dan ladang.Bahan untuk memadamkannya,air,pasir,karung goni yang dibasahi,tabung APAR/alat pemadam kebakaran racun api.atau tepung kemia kering.Kebakaran Kelas B; disebabkan benda-benda mudah terbakar berupa cairan,misalnya bensin,solar,minyak tanah,spritus, dll. ini sering terjadi dilokasi yang mengandung bahan bakar,seperti SPBU,laboratorium dan dapur umum, bahan untuk memadamkannya,pasir, tabung APAR,tepung kemia kering,kalau menggunakan air tak efektif karena massa jenis air lebih kecil dibandingkan minyak.jika minyak yang menjadi sumber api telah berkurang,air dapat digunakan untuk pemadaman,namun jika api masih berkobar diatas minyak,kehadiran air justru akan memperluas kobaran api.

Kebakaran Kelas C;diakibatkan oleh adanya panas yang berasal dari media aliran listrik yang bocor,hubungan pendek arus listrik( korsleting). ini terjadi pada bangunan yang berasal dari kayu maupun dari bata,bisa juga akibat sembaran petir yang terjadi disebuah bangunan.Penyebabnya kelalaian dalam menggunakan listrik rumah,langkah awal memadamkan api yaitu mematikan dulu sumber listrik agar kita aman dalam memadamkan kebakaran,dibantu dengan tabung APAR,racun api atau tepung kemia kering,juga dengan air.Miskipun tidaklah mungkin seluruh bencana dapat kita hindari,namun upaya dan usaha untuk mengurangi sangatlah wajib untuk kita lakukan,agar bencana kebakaran tidak akan mudah terjadi begitu saja, yang dampaknya sangat merugikan kita semua, semoga informasi ini bisa berguna bagi kita semua.“ Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.(Q.S.Al-A`raf ayat 96).

Begitu juga sebaliknya”dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta".(QS At Thaha 124).Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan luas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia dalam kurun Januari hingga Agustus 2019 mencapai 328.724 hektare.Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data dan Informasi Masyarakat BNPB, Agus Wibowo, ketika dihubungi Antara dari Pekanbaru, Selasa, mengatakan Provinsi Riau merupakan daerah terluas dilanda Karhutla di Sumatera, yakni mencapai 49.266 hektare (Ha). Kebakaran di Riau paling banyak terjadi di lahan gambut mencapai 40.553 Ha, dan tanah mineral 8.713 Ha.

Menurut dia, data luas Karhutla tersebut merupakan penghitungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berdasarkan interpretasi visual data citra satelit Landsat 8 OLI/TIRS dan data titik panas, atau disebut MODIS. Data luas Karhutla itu telah diverifikasi oleh Ditjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan dan diketahui oleh Plt. Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, Raffles B. Panjaitan.

Agus menjelaskan, secara keseluruhan kebakaran di lahan mineral masih paling luas yakni mencapai 239.161 Ha, sedangkan di lahan gambut mencapai 89.563 Ha. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah yang paling luas terjadi kebakaran di tanah mineral, yakni mencapai 108.368 Ha.Karhutla yang luas juga terpantau di Kalimantan Tengah mencapai 44.769 Ha, Kalimantan Barat 25.900 Ha, Kalimantan Selatan 19.490 Ha, Sumatera Selatan 11.826 Ha, Jambi 11.022 Ha, Jawa Timur 10.508 Ha, Kalimantan Timur 6.715 Ha, Papua 6.144 Ha, dan Kepulauan Riau 5.621 Ha.Khusus di Riau, BNPB sudah mengerahkan 1.512 pasukan gabungan dan bantuan tujuh unit helikopter.

Namun, hingga kini Karhutla terus meluas hingga asap atau derudebu kian pekat menyelimuti Kota Pekanbaru, Ibu Kota Provinsi Riau.Sebelumnya, Direktur Pengendalian Karhutla KLHK, Rafles B. Panjaitan pada Senin (9/10) mengungkapkan ada perbedaan data luas Karhutla yang dirilis kementerian tersebut dengan data yang dirilis oleh Satgas Karhutla Riau.Satgas Karhutla Riau menyatakan luas kebakaran yang melanda Bumi Lancang Kuning itu sepanjang tahun ini baru mencapai 6.541,76 Ha yang menyebar di 12 kabupaten dan kota. Raffles tidak mempersalahkan data tersebut, dan menilai jika luasan lahan terbakar yang disajikan oleh Satgas Riau itu bisa bermaksud luas Karhutla yang dipadamkan.

Ia memastikan bahwa luas indikatif Karhutla di Riau juga diamati oleh negara lainnya dengan menggunakan satelit. Untuk itu, dia memastikan KLHK secara serius menghitung luas lahan yang terbakar dengan menggunakan instrumen yang tersedia hingga anggota di lapangan untuk melakukan verifikasi.“Kita tidak bisa berbohong soal data luas lahan yang terbakar ini. Karena Negara luar juga memantau dengan satelit. Kalau data kita tidak cocok dengan mereka, bisa protes orang luar nanti,” kata Raffles. Kepada seluruh ummat Muslim dihimbau untuk membaca do,a syair berikut ini untuk tolak bala dan minta hujan “ Ya lathifan  bil `ibaad,ulthuf binaa wasqil bilaad, Warham `abiidaka yaa jawaad,qoblat-tabarrum wal fasaad.”maksudnya Wahai yang maha lembut terhadap hambanya,berlemah lembutlah kepada kami dan hujanilah negeri ini.Kasihanilah hambamu,wahai yang maha dermawan sebelum terjadi kehancuran dan kerusakan “( Syair guru Sakumpul). Demikian semoga bermanfaat.

Penulis : M.Noor.S.Ag (Kamad MIN 9 Batola)
Editor / Redaktur : raju

Opini Terbaru




Bagikan Halaman Ini