kalsel.kemenag.go.id




Diunggah tanggal 25-04-2018 09:13:42

Kerohanian Islam Bentengi Siswa Madrasah dari Pergaulan Bebas





Oleh : Aida Rahmawati, S.Pd (Guru Mata Pelajaran Bahasa Inggris MAN 1 Balangan)

Pengakuan Jan Zakobielski (27), pemilik dan pengelola Cinderella Escorts tentang bisnisnya menjual keperawanan sangat mengejutkan. Setelah sukses mengelola situs pelacuran di Amerika Serikat, 350 perempuan Indonesia juga mendaftar di Situs Lelang Keperawanan Cinderella Escorts. Ketika ditanya koresponden Tribun tentang harapannya terhadap gadis di Indonesia, dia mengharap akan memiliki setidaknya 50 persen lebih  di dalam penerapannya mengenai perawan yang ada di Indonesia saat ini dan mendatang. (Tribunnews.com/ Sabtu, 31 Maret 2018 07:50 WIB)

Memang masalah pergaulan bebas sudah melintasi bukan hanya daerah perkotaan tapi juga daerah pedesaan. Bukan hanya terjadi di lokalisasi pelacuran tapi juga masuk lewat telepon genggam. Ini sungguh miris mengingat remaja di Indonesia sebagian besar adalah beragama Islam.

Beberapa penelitian perilaku seksual remaja menyebutkan, dari tahun ke tahun terjadi peningkatan angka remaja yang sudah pernah berhubungan seks. Di Jakarta, menurut Riset Strategi Nasional Kesehatan Remaja yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan tahun 2005 menyebutkan 5,3 persen pelajar SMA di Jakarta pernah berhubungan seks.

Survei yang dilakukan BKKBN tahun 2008 menyebut 63 persen remaja di beberapa kota besar di Indonesia telah melakukan seks pra nikah. Dari hasil survei yang dilakukan Annisa Foundation tahun 2006 ditemukan 42,3 persen remaja SMP dan SMA di Cianjur, Jawa Barat, pernahberhubunganseks. (Makin Banyak Remaja Melakukan Seks Pranikah, (31/01/2010))

Lantas kenapa pebisnis haram tersebut menyebutkan potensi bisnis pelacuran tersebut berkembang di Indonesia cukup besar? Makin terbukanya akses informasi ditambah tekanan dari lingkungan diyakini menjadi penyebab banyaknya remaja yang melakukan seks pranikah.

“Saat ini akses terhadap materi pornografi semakin mudah, misalnya lewat internet atau telepon seluler, belum lagi pressure dari temannya, misalnya pendapat yang mengatakan kalau masih perawan berarti kuno. Hal ini sedikit banyak mendorong remaja melakukan seks pranikah,” ujar psikolog Ratih Ibrahim. (Makin Banyak Remaja Melakukan Seks Pranikah, (31/01/2010))

Menurut orang seperti Jan Zakobielski yang berideologi Sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan),  sah-sah saja berbisnis sesuatu yang diinginkan manusia. Bahkan kalau itu menghasilkan keuntungan tentu merupakan peluang bisnis besar. Berbeda dengan seorang muslim, dia wajib terikat dengan aturan Sang Pencipta yaitu Allah SWT sebagai konsekuensi dari imannya.

Bisnis pelacuran atau bentuk pergaulan bebas lainnya secara jelas pekerjaan atau aktifitas yang dilarang dalam Islam. Allah berfirman dalam QS. Al Isra:32  

ولا تقربوا الزنى إنه كان فحشة وساء سبيلا

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini merupakan larangan Allah SWT pada hamba‑Nya dari melakukan zina, hal-hal yang mendekatkan pada zina, melakukan perbuatan pendahuluan zina dan propaganda untuk berzina (Tafsir Ibnu Katsir, III, hal. 50).  Larangan ini berarti mencakup larangan saling berpandangan dengan syahwat, berduaan, bergandengan tangan, mencium, mojok, dan saling merayu antara lain jenis yang bukan suami istri.

Berkaitan dengan pergaulan bebas yang marak terjadi, penulis merasa perlu untuk menyampaikan beberapa hadits Rasulullah SAW tentang  bahaya kemaksiatan di masyarakat sebagai berikut:

الذنب شؤم على غير فاعله إن عيره أبتلي وإن اغتابه أثم وإن رضي به شاركه (الديلمى)

"Perbuatan dosa mengakibatkan sial terhadap orang yang bukan pelakunya.  Kalau dia mencelanya maka bisa terkena ujian (cobaan), kalau menggunjingnya dia berdosa dan kalau dia menyetujuinya maka seolah dia ikut melakukannya"

مثل القائم على حدود الله والوقع فيها كمثل قوم استهموا على سفينة فأصاب بعضهم أعلاها وبعضهم أسفلها, فكان الذين في أسفلها إذا استقوا من الماء مروا على من فوقهم فقالوا لو أنا خرقنا في نصيبنا خرقا ولم نؤذ من فوقنا فإن يتركوهم وما أرادوا هلكوا جميعا وإن أخذوا على أيدهم نجوا ونجوا جميعا  (أحمد و بخارى والترمذى)

"Perumpamaan orang-orang yang mencegah berbuat maksiat dan yang melarangnya adalah seperti kaum yang diundi dalam sebuah kapal, sebagian mendapatkan bagian atas dan sebagian yang lain berada di bawah.  Jika orang-orang yang berada di bawah membutuhkan air, mereka harus melewati orang-orang yang berada di atasnya.  Maka berkatalah orang-orang yang berada di bawah: `Andai saja kami melubangi (dinding kapal) pada bagian kami, tentu kami tidak akan menyakiti orang-orang yang berada di atas kami`.  Tetapi jika yang demikian itu dibiarkan oleh orang-orang di atas (padahal mereka tidak menghendaki), niscaya binasalah seluruhnya.  Dan jika mereka dicegah melakukan hal itu, maka ia akan selamat dan selamat pula semuanya. (HSR. Ahmad, Bukhari, dan Tirmidzi.

Madrasah sebagai salah satu satuan pendidikan yang banyak mengajarkan pengetahuan Islam merupakan benteng di masyarakat dari kemerosotan akhlak. Guru-guru pengajar mata pelajaran Akidah Akhlak, Fikih, Qur’an Hadits, Sejarah Kebudayaan Islam dan Bahasa Arab adalah contoh panutan siswa dalam mengaplikasikan ilmu yang mereka pelajari di madrasah dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mata pelajaran Agama Islam dan guru yang memberi contoh serta kebiasaan keagamaan yang tersistem pada madrasah satu-kesatuan yang tidak terpisahkan dalam menanamkan akhlak mulia kepada siswa.

Di sisi lain, siswa menghadapi kehidupan yang berbeda ketika mereka telah berada di rumah maupun lingkungan masyarakat.  Tontonan TV,  situs-situs internet yang menyuguhkan pornografi serta pertemanan di media sosial cukup menambah berat beban remaja muslim untuk “survive” mengarungi hutan pergaulan bebas. Di sinilah pentingnya peran teman sejawat untuk menguatkan mereka tetap berakhlak mulia di antara lingkungan yang serba bebas.

Teman sejawat yang memiliki kecenderungan untuk mempertahankan akhlak baik mereka akan memilih aktifitas yang membawa kebaikan. Untuk membekali mereka dengan kemampuan di bidang keagamaan, mereka memilih ekstrakurikuler Kerohanian Islam.

Kerohanian Islam atau lebih dikenal Rohis di madrasah adalah ekskul yang mengumpulkan siswa yang memiliki minat dan ingin mengembangkan potensi yang sama di bidang keagamaan. Ekskul yang biasanya dilakukan di madrasah seperti Seni Baca Al Qur’an (Tilawah), Seni Tulis Al Qur’an (Kaligrafi), Syair Al Habsyi, Menghapal Al Qur’an (Tahfidz) dan Seni Pidato (Taushiyah). Biasanya acara untuk menampilkan kemampuan mereka disebut Muhadharah.   Rohis lebih dikenal di tingkat Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah karena di tingkat ini siswa sudah memasuki usia remaja sehingga keinginan untuk berkelompok dengan teman sejawatnya sudah muncul.

Potensi Rohis ini sudah selayaknya dipertahankan. Awal mula terbentuknya Rohis untuk mengembangkan bakat dan minat siswa dalam bidang keagamaan membantu madrasah mencapai visi dan misinya. Ekskul Rohis bisa membina dan membimbing siswa untuk meraih prestasi. Perlombaan hanya salah satu cara memunculkan benih-benih bakat siswa. Tentunya pembimbingan setiap minggu dalam ekskul Rohis lebih mengembangkan lagi bakat-bakat tersebut.

Siswa yang mengikuti ekskul Rohis umumnya termotivasi untuk menampilkan karakter yang baik di tengah teman sejawatnya. Mereka tidak malu untuk menularkan karakter baik tersebut dengan diskusi dan taushiyah ketika momen-momen muhadharah. Ini situasi yang mendukung menciptakan pergaulan yang Islami di antara teman maupun terhadap guru serta lingkungan luar.

Mereka belajar berorganisasi dengan mengadakan kepanitiaan pada acara-acara yang mereka program sendiri. Seperti organisasi siswa lainnya di bawah OSIM (Organisasi Siswa Intra Madrasah),  anggota Rohis bisa merancang program acara yang mengikutsertakan siswa lain di luar ekskul Rohis. Apa yang mereka anggap perlu untuk disampaikan kepada remaja tentang kerusakan akhlak  dapat  mereka salurkan pada acara tersebut.

Dengan berorganisasi, siswa juga membangun karakter yang baik pada dirinya. Citra baik yang tersemat pada Rohis akan memunculkan sifat baik seperti percaya diri, berani, suka menolong, empati, ingin tahu dan meneliti, berprasangka yang baik serta mencari solusi. Memang muncul opini negatif tentang Rohis bahwa ekskul ini hanya memperbaiki siswa yang sudah baik karena biasanya yang cenderung jadi anggota Rohis adalah yang sudah memiliki pemahaman Islam yang baik. Di sinilah pentingnya Rohis untuk lebih menguatkan lagi kemampuan dan keteguhan siswa yang dianggap baik tersebut untuk lebih baik lagi. Dengan demikian mereka bisa menularkan sifat baik mereka kepada teman-teman lain yang dianggap kurang baik. Tentunya dengan mendorong anggota ekskul aktif berteman bukan hanya dengan sesama anggota ekskul tapi juga dengan yang lain.

Rohis juga mengajarkan untuk memperbaiki sesuatu adalah dengan diskusi dan pemahaman, bukan dengan kekerasan.  Sebagian siswa merasa terpaksa ketika melakukan aktifitas pembiasaan ibadah seperti shalat zhuhur berjamaah, tadarus Al Qur’an ataupun menulis hadits bagi siswi yang berhalangan shalat. Hal ini terkadang dikarenakan siswa merasa harus melaksanakan tanpa memahami implikasi positif pada dirinya. Secara fisik, siswa mau mengerjakan apa yang disuruh, tapi dalam hatinya terjadi pergolakan yang luar biasa. Siswa yang sudah memiliki kesadaran akan ikhlas melaksanakannya karena dia memang meyakini kebenarannya.

Kembali ke masalah awal tentang pergaulan bebas, Fikih Islam sudah memberi jawaban yang solutif. Islam dengan tegas mendorong para pemuda yang sudah mampu untuk segera menikah.

“Wahai para pemuda barangsiapa yang telah mampu hendaknya menikah sebab menikah itu akan lebih menundukkan pandangan dan akan lebih menjaga kemaluan. Kalau belum mampu hendaknya berpuasa sebab berpuasa akan menjadi perisai bagimu.” (Bukhari-Muslim)

Bimbingan yang intensif  dari ekskul Rohis membiasakan siswa untuk menjalankan ibadah secara konsisten. Kebiasaan shalat dan puasa sunnah serta pengetahuan Islam akan menguatkan mental siswa dalam menghadapi informasi global seperti pornografi. Islam yang mampu memuaskan akal  dan mencerdaskan remaja sehingga mampu membedakan mana yang baik dan buruk berdasarkan  hukum syara’ dan mampu membedakan mana yang terpuji dan tercela berdasarkan keridloan Allah Swt bukan hawa nafsu manusia. Islam juga menentramkan jiwa. Bahagia  berdasarkan standar Allah SWT. Bahagia ketika bisa menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi semua larangan Allah SWT. Bahagia dalam keimanan, jauh dari stres, jauh dari kegalauan, dan percaya diri dalam menjalani kehidupan.



Opini Terbaru




Bagikan Halaman Ini