kalsel.kemenag.go.id




Diunggah tanggal 08-09-2017 15:26:30

Pendidikan Jurnalistik Membentuk Karakter Siswa





Oleh: Aida Rahmawati, S.Pd

 

Istilah “jurnalistik” di Indonesia dulu dikenal dengan “publisistik”. Istilah jurnalistik muncul dari Amerika Serikat dan menggantikan pulisistik dengan jurnalistik. Sementara jurnalisme atau kewartawanan berasal dari kata journal, mempunyai arti catatan harian atau catatan mengenai kejadian sehari-hari. Dapat juga diartikan sebagai surat akbar. Journal berasal dari istilah bahasa Latin diurnalis, yaitu orang yang melakukan pekerjaan jurnalistik. (Wikipedia.org)

Dalam pelajaran Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK kelas XII pendidikan jurnalistik terdapat pada Kompetensi Inti yaitu poin 2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

Sementara dalam kompetensi dasar 2.2 Menunjukkan perilaku tanggung jawab, peduli, dan santun dalam menggunakan bahasa Indonesia untuk memahami dan menyampaikan berita politik, ekonomi, sosial, dan kriminal. (Kurikulum 2013 SMA)

Seperti tercantum dalam Kurikulum 2013, kompetensi inti ibarat anak tangga untuk mencapai kompetensi lulusan yang ditempuh siswa SMA/MA/SMK selama 3 tahun. Namun kompetensi inti tidak diajarkan di kelas. Sedangkan kompetensi dasar diajarkan di kelas. Sayangnya pembelajaran tentang berita baru didapatkan di kelas XII melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Sebenarnya pendidikan karakter bisa dilakukan melalui kokurikuler yaitu dalam pembelajaran di pagi hari serta ekstrakurikuler yang dilakukan siswa di luar pembelajaran di kelas. Dalam jurnalisme bisa dibangun sikap sosial yang terkait dengan tujuan pendidikan nasional yaitu membentuk peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab.

Ekstrakurikuler jurnalistik pada peserta didik tingkat SMP/MTs dan SMA/MA/SMK bisa diadakan setelah pulang sekolah sesuai waktu yang disepakati peserta didik dan guru pembimbing. Walaupun bukan ekstrakurikuler wajib, jurnalistik bisa diajarkan dan dilatih pada siswa dengan memotivasi mereka tentang pentingnya jurnalisme dalam kehidupan.

Peserta didik mendapatkan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat. Tujuannya agar peserta didik secara mandiri menggunakan pengetahuannya, merealisasikan akhlak mulia secara demokratis dan bertanggung jawab.

Pada ekstrakurikuler jurnalistik peserta didik mendapatkan pengetahuan tentang tulis menulis, jenis tulisan jurnalistik dan dunia cetak mencetak. Mereka bisa mengembangkan potensi mereka dalam mengumpulkan informasi dengan cara mewawancarai sumber berita, membaca sumber tulisan lainnya sampai menuliskannya dalam tulisan. Mereka bisa mempengaruhi karakter peserta didik lain dalam bentuk tulisan.

Selain itu dunia photografi juga sangat diminati remaja pada era elektronik ini. Mereka bisa mengembangkan minat tersebut untuk memperkaya tulisan jurnalistiknya. Mereka bisa mengungkapkan fakta tulisan mereka dengan photo yang bernilai berita yaitu orisinail dan aktual serta menggambarkan tulisan mereka.

Dalam menulis, peserta didik memerlukan kerja keras untuk mengumpulkan data, mengolah dalam bentuk tulisan, mengedit dan menerbitkannya. Rasa ingin tahu diperlukan untuk menggali data. Mereka harus jujur dalam menuangkan fakta tersebut. Tidak ada fakta yang tidak berdasar pada sumbernya atau khayalan. Mereka harus berani menyampaikannya. Mereka juga harus sopan dengan menggunakan bahasa formal yang sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia dan ini berkaitan dengan kode etik jurnalistik.

Untuk menghasilkan produk jurnalistik, tidak jarang peserta didik harus mengalami kegagalan-kegagalan. Mereka belajar memperbaikinya sampai mereka mampu menghasilkan tulisan yang benar. Hal tersebut diperlukan mental pantang menyerah dan tidak takut gagal. Tantangan dalam menulis merupakan pembentuk karakter generasi yang akan menjadi pemimpin masa depan.

Di sinilah perlunya keterampilan dan kesabaran yang dimiliki guru pembimbing. Bisa jadi di awal ekstrakurikuler berjalan, peserta didik semangat dalam memulai kegiatan. Ketika menemui tantangan-tantangan seperti memanajemen waktu antara mengerjakan tugas dari mata pelajaran di sekolah dengan amanah jurnalistik. Guru pembimbing tidak hanya memotivasi peserta pada saat jadwal ekstra kurikuler yaitu satu kali dalam seminggu, namun juga ketika ada kesempatan bertemu dengan peserta didik di dalam kelas maupun saat istirahat. Guru pembimbing memberikan contoh sikap yang harus diambil dan membantu mereka menyelesaikan kesulitan yang ditemui di lapangan.

Lomba jurnalistik bisa jadi alternatif menumbuhkan dan meningkat minat dalam menulis maupun photografi. Guru bisa bekerjasama dengan OSIS dan stakeholder maupun pihak surat kabar local untuk mendukung acara tersebut.

Banyak nilai karakter yang dapat dibangun dengan pendidikan jurnalistik. Sejak dini, peserta didik bisa dikenalkan dengan dunia tulis menulis ini. Peserta didik SMP/MTs dan SMA/MA/SMK adalah usia peserta didik yang sudah mengenal dasar-dasar menulis maupun photografi. Mental remaja yang ingin tahu dan mau mencoba hal baru juga mendukung pendidikan jurnalistik ini dikenalkan pada jenjang pendidikan tersebut. Guru hendaknya bisa mengenali potensi dan minat peserta didik agar mampu membentuk karakter yang baik guna mencetak pemimpin masa depan.



Opini Terbaru




Bagikan Halaman Ini