kalsel.kemenag.go.id



Diunggah tanggal 19-04-2017 07:06:59

Ternyata Syurgaku di Telapak Tangan Ayahku





Penulis : (Hj.Wardah, Guru MIN 20 Banjar)

Cerita ini terjadi didaerah Hulu Sungai Selatan Kandangan, namun sang anak  sekarang bertugas dikecamatan Gambut, ingin memuat  kisahnya kedalam feature yang saya tulis. Anak tersebut bernama Siti Ulfa, sekarang bertugas disalah satu Madrasah di Wilayah kabupaten Banjar, berusia sekitar 23 tahun

Disuatu siang yang amat panas saya duduk bersama Ulfa, yang tampak lemas dan lesu karna panasnya cuaca, dimulai dari cerita satu keluarga yang sama sekali tidak bahagia, ayah, ibu yang selalu bertengkar, dan  adiknya yang tampak selalu hidup dalam ketakutan, seorang perempuan juga.

Siti Ufi memulai ceritanya.

Hidup keluarga mereka diluar tampak bahagia, ayahnya seorang PNS dan  Ibunya  pembuat kue basah dan kering, serta kue ualang tahun juga berbagai cake, guna menambah penghasilan keluarga, dan adikku masih duduk dibangku Sekolah Dasar, kata Ulfa tampak berkaca- kaca.

Dimana kamu dan keluargamu tinggal ? tanya saya memperpanjang pembicaraan, dengan jawaban yang lesu Ulfa menjawab, dia tinggal di rumah tua milik nenek yang sudah nampak lusuh karena lama tidak ditempati.  Apakah penghasilan ayahmu yang seorang PNS  tidak mencukupi kebutuhan keluarga kamu, apalagi ibumu  mampu membuat usaha sendiri? tanya saya lagi,  dengan sedikit kesal Ulfa menjawab, disitulah titik persoalan hidup keluarganya, walaupun ayahnya seorang PNS, tapi ayahnya jarang pulang kerumah, dan kalaupun pulang hanya amarah, pukulan dan sumpah serapah  yang dibawanya,''

Sambil menunjukan  ekspesi  marah Ulfa meneruskan ceritanya, dia dan adiknya merasa amat tertekan, dan membenci ayahnya, jangankan  bilang mau minta uang, bertegur sapapun hampir tidak pernah, karena perangai buruk ayahnya, ditambah seringnya ibunya yang selalu bertengkar apabila ayah pulang kerumah, ''hidupku dan adikku bagai dineraka, tidak ada senyum dan kebahagian yang ada dikeluarga kami'' katanya

Sambil menghela nafas panjang Ulfa meneruskan ceritanya, disuatu malam yang pekat, bahkan langitpun malas mengeluarkan bintang- bintangnya, dan bulan masih terlena diperaduannya, Ayahnya pulang sempoyongan, sambil mengomel tidak karuan, sampai kerumah pintupun ditendang, namun ibunya tidak memperdulikan, dan dia berdua menutup pintu kamar tanpa ingin tahu apa yang terjadi, namun segelintir Ulfa mengaku mendengar ocehan ayahnya, bahwa dia melihat sesuatu yang memalukan, dan untuk melupakan kejadian yang dilihatnya, dia membenamkan diri kelembah perjudian dan mabuk- mabukan.

Sambil terbata- bata Ulfi meneruskan kisah hidupnya, di pagi buta bahkan burung muraipun belum bersuara dengan kicauan merdunya, ayahnya sudah berangkat entah kemana, dengan berjalan kaki tanpa mandi dan sarapan pagi seperti orang kebanyakan, yang membuat dia penasaran kemana ayahnya pergi sepagi ini, seorang pegawai biasanya pergi sekitar jam 07.00.

Apakah kamu tidak ingin tahu apa yang dilakukan ayahmu? Tanyaku lagi,  Wajah Ulfa agak memerah, apakah marah atau karena malu. Ulfa mengaku penasaran, sepulang sekolah dia  selidiki, dan pergi kekantor tempat ayah bekerja, dengan terlebih dahulu menjemput adiknya disekolahnya untuk menemani, agar dia tidak kelimpungan kalau ada ayahnya yang memergoginya. Sesampai dikantor ayah,  banyak teman ayahnya yang menyapa nya, namun tampak mereka sedikit keheranan, dengan kedatangan kami, dengan langkah perlahan, langkahnya bersama adiknya seirama seperti penggerek bendera, ketika dia sampai didepan sebuah pintu yang bertuliskan bagian umum, ''tok,tok,tok'' diketoknya pintu perlahan, sambil membuka daun pintu lalu dipandanginya seluruh ruangan tampak kursi berjejer, dan hilir mudik pegawai sedang bekerja.

Sambil menghela napas panjang, Ulfa meneruskan ceritanya, dia beranikan bertanya pada teman ayahnya yang bernama pa Irawan  ''Ayah dimana pa?'', tanyanya lirih, Pa Irawan tampak tidak percaya dengan pertanyaanya, dia jadi bingung, apakah pertanyaannya aneh atau sulit dijawab, dan sekali lagi dia ulangi bertanya, ''Ayah kami dimana pa?'' akhirnya pak Irawan menarik kursi yang ada disampingnya, ''Ssstttt duduk dulu disini nak.” bapa ingin tanya kata pa Irawan,  Apa ayah tidak cerita, bahwa kemaren ayah sudah diberhentikan karena memukul orang dalam keadaan mabuk?

Bagaikan disambar petir disiang bolong Ulfa dan adiknya saling berpandangan, seakan tidak percaya apa yang didengar mereka.

Apa yang kamu lakukan bersama adikmu setelah mendengar berita tersebut? tanya saya penasaran, ''kami tidak langsung pulang,'' katanya, mereka berjalan ke taman kota untuk menghilangkan rasa terkejut, tanpa sengaja dia dan adiknya melihat dan berpapasan dengan Satpol pp yang bertugas membersihkan taman kota, diabergumam sendiri seakan seperti melihat ayah, tapi mana mungkin itu ayahnya, mungkin hanya mirip, gumamnya, sambil pulang menuju rumah.

Sesampai di rumah dibukanya, pintu rumah yang sudah tampak lusuh, adiknya yang masih polos tampak biasa saja, namun hatinya bagai dihimpit bumi, ''kucoba mengungkapkan apa yang kuketahui pada ibuku, namun ada perasaaan tidak tega terhadap perasaan ibuku'' katanya

Tampak disore itu mendung amat tebal, semendung hatinya yang membawa beban berat, sepertinya haripun seperti tidak bersahabat padanya, ketika senja datang diiringi kumandang azan, tampak dari kejauhan seseorang sedang berjalan, tertatih tatih menuju kediaman, dilihatnya ayah datang dengan sepatu ditenteng dalam kantong plastik.

Dengan wajah lusuh ayahnya memasuki rumah, dia mengintip dari kegelapan, daun pintu yang agak bolong, sesampai dikamarnya mulailah pertengkaran terjadi, namun sayang apa yang didengarnya sangat tidak jelas, karena diiringi dengan desiran hujan, dan dentuman halilintar dan petir bersahutan, namun yang jelas pertengkaran tampak semaki memuncak, sederas hujan dikegepan malam, Kalimat yang di dengar dari ibunya, ''aku akan meninggalan rumah, karena sudah tidak ada kesepahaman,'' didengarnya ayah amatlah marah, ayah memohon agar ibunya kembali dan berjanji akan menjadi lebih baik, namun yang tidak dimengertinya mengapa ayahnya memohon sedemikian, apa gerangan yang terjadi?

Kekerasan hati ibunya membuat ayahnya semakin marah, tanpa jelas sebabnya, ''paaak,'' terdengar tamparan dari sebelah kamar, terdengar ibunya menjerit kuat, sambil berlari keluar dalam badai hujan, ibunya terus berlari sampai akhirnya hilang kegelapan malam dan derasnya hujan, ''Biarkan ibumu pergi untuk selamanya'' kata ayah yang menahannya untuk mengikuti ibunya dalam hujan, dalam ketidak pahaman  dia menangis, meratapi ibunya yang mulai tidak kelihatan diatas sebuah jembatan, yang dibawahnya jurang yang sangat curam. Sambil menghela nafas panjang ulfa meneruskan kisahnya.

Hampir sebulan berlalu, menurut dia dan adiknya ibunya bunuh diri dibawah jembatan, dimalam kelam itu, dan mereka semakin membenci ayah, hampir tidak ada komunikasi antara mereka dan ayah, namun, yang tidak habis pikir ayah tidak lagi mabuk seperti biasa, diketika ibu masih ada, bahkan setiap pagi sebelum mereka bangun, baju seragam mereka sudah siap dengan baik digantungan, digosok rapi dan harum, dan ketika dia kedapur untuk memasak, alangkah terkejutnya, makanan sudah siap diatas meja, bahkan termasuk bekalmereka, untuk ke sekolah.

Selanjutnya dia berencana untuk memkubuktikan rasa penasarannya besok  pagi, ''siapa yang melakukan semua kebaikan  ini?'' gumamnya,  setelah makan bersama adiknya, sekitar jam 10.00  malam seperti biasa ayahnya baru datang, entah darimana?

Dia berusaha mencari tahu, disepertiga malam itu didengarnya bunyi pintu kamar ayah terbuka, “krrriuuut,” terdengar langkah kaki yang tampak hati- hati, diapun segera bangun dari peraduannya, sambil mengintip apa yang dilakukan ayah. Dilihatnya ayah berjalan kearah belakang rumah, mengambil air wudhu, setelah itu diambilnya pakaian yang biasa kami kenakan dihari kamis, disetrikanya hati- hati, sampai selesai, digantungnya di pintu kamar mereka, sambil berbalik langkah, ayah menuju dapur, ''Ssssrrrr,'' bunyi air dimasukan keteko untuk dimasak, lalu membuka magic untuk memasak nasi, tidak sampai disitu diambil ayahnya beberapa lauk  dan sayur untuk dimasak pagi itu, sssrrr bunyi minyak agak panas, dimasukannya beberapa jenis sayur untuk dioseng- oseng, Tek bunyi kompor dimatikan tanda pekerjaannya selesai,

''Allahu Akbar, Allahu Akbar,'' suara adzan  tanda salat subuh sudah tiba, dan ayah bergeges mengambil air wudhu, untuk salat. Dalam gumam Ulfa bertanya ''mengapa baru sekarang ayah sadar akan perbuatanya, setelah ibu tiada, mungkin ini pertaubatannya,'' pikirnya, setelah aku juga mengambil wudhu, akupun  salat, dan setelah selesai kuintip lagi apa yang dilakukan ayahnya?

Dalam keadaan remang- remang, subuh, dilihatnya ayahnya bersiap untuk berangkat menghilang seperti biasa, sejak ibu tiada, semua pekerjaannya apabila telah selesai, ayah menghilang bak siluman , seakan takut akan cahaya matahari, dan terang , tapi dia harus tahu apa sebenarnya yang dilakukan ayahnya hari ini juga.

Diikutinya langkah kaki ayahnya, ketika keluar dari rumah ayah seperti maling yang belingsatan, kalau ketahuan orang banyak, dengan tas ransel dipundaknya, dia berjalan mengendap endap, dan akhirnya mengambil sebuah sepeda, dan menggenjotnya, Sambil berjalan aku ikuti dari belakang, ''Siit'' rem sepeda digenggmnya, singgah disebuah mobil Satpol pp taman kota yang sedang parkir dipinggir jalan, kata Ulfa

Bagaimana kehidupanmu selanjutnya bersama ayahmu? Tanya saya makin penasaran, Ulfa meneruskan ceritanya, Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, hampir tiga bulan berlalu, disuatu siang yang agak panas dia belanja disebuah pasar, karena diminta oleh ayah untuk berbelanja keperluan dapur, karena hubungan mereka sudah agak membaik, bahkan rasa kagumnya pada ayah mulai tumbuh, ditengah kesibukannya bekerja,  ayah masih sempat menyiapkan segala sesuatu untuk dia dan adiknya. Diketika dia selesai belanja, dia ingin menyeberang jalan, ditengah hiruk pikuk mobil dan kenderaan lainnya, dilihatnya orang yang mirip  ibunya turun dari sebuah mobil Xenia  warna putih, kuulangi menatap orang tersebut, ternyata benar dia ibunya, diteriakinya wanita itu ''Iibuuuuuuu,ibuuuu,'' wanita tersebut agak kaget sambil menoleh, dan ketika ingin berlari sudah tidak sempat, karena dia sudah dihadapanya, ''buuuu, aku Ulfa'' katanya, tapi sungguh diluar dugaannya wanita itu tidak mengakui dia sebagai anaknya, dan pergi meninggalkannya begitu saja bersama seorang lelaki yang ada dalam mobilnya.

Diayunkannya langkah kaki nya pulang kerumah, sambil memikirkan apakah dia bermimpi ataukah wanita tadi hanya mirip saja dengan ibunya. Diketika ayahnya pulang,   seperti biasa mereka makan bersama, diapun memberanikan diri bercerita pada ayah tentang apa yang dialaminya hari itu. dengan suara bergetar dia berucap, ''Ayah aku melihat ibu hari ini, tadi dipasar, jadi selama ini ibu tidak meninggal, ibu tidak bunuh diri dijembatan itu,'' katanya, Ayahnya terdiam sejenak, sambil menghela nafas panjang, akhirnya ayah mau bercerita sejujurnya.

''Selama  dua tahun terakhir, Ketika ayah masih PNS, ibumu berselingkuh dengan teman sekantor ayah, berulang kali ayah peringatkan untuk kembali, tapi ibumu tidak perduli, bahkan menggunakan kalian sebagai tameng kekuatannya melawan ayah, apabila ayah cerita yang sebenarnya pada kalian, maka ibumu akan memasukan kalian ke panti asuhan, untuk mmpertahankan kalian, ayah harus mengalah akan kemauan ibu kalian,'' Tutur ayahnya

Sedangkan sebab ayah diberhentikan sebagai PNS, ayahnya mengakui memukul teman ayah yang jadi selngkuhan ibunya, dan juga atasan ayah, ''srruut,'' sambil menghirup teh manisnya, ayahnya meneruskan ceritanya, ''Dimalam itu ibu berlari ditengah hujan karena sudah ditunggu oleh kekasihnya, dan ayah berusaha mencegahnya sampai ayah menamparnya, agar ibumu mengurungkan niatnya meninggalkan kita, namun usaha ayah sia- sia, keluh ayah,'' katanya.

''Dan kamu lihat sekarang, jangankan memelukmu, bahkan ibumu seakan tidak kenal lagi dengan kamu, tapi walau bagaimanapun ibumu tetap akan jadi ibu kalian, tapi jangan ditiru pekerjaannya dan kelakuannya,'' tutur ayah sambil menghembuskan asap rokok dimulutnya ke udara.

Ulfa ternganga mendengar kenyataan pahit yang kudengar tentang ibunya,  yang selama ini dibanggakan, ternyata jauh dari kenyataan, ayah yang  selama mereka benci ternyata bak malaikat, yang selalu berkorban untuk hidup mereka, bahkan ayahnya rela melepaskan pekerjaannya sebagai PNS, bekerja sebagai Satpol PP taman kota,  asalkan berkumpul dengan mereka, ''sungguh mulia hatimu ayah, mabukmu dulu ternyata untuk melupakan kesedihan dan kepahitan hidupmu, perhatianmu laksana kasih seorang ibu, namun kami terlambat menyadarinya, maafkan kami Ayah,'' katanya

Bagaimana perasaanmu sekarang terhadap kedua orang tuamu itu? jadi pertanyaan pamungkas saya,  Sambil berlinang air mata ulfa mengeluarkan uneg- uneg hatinya,  menurutnya, ayahnya adalah malaikat  mereka yang telah menjaga sampai sekarang, beliau tidak pernah berkeinginan untuk menikah lagi, tujuan hidupnya hanya untuk keberhasilan pendidikan mereka, dan sekarang dia sudah meraih gelar sarjana bidang pendidikan, walaupun biaya pendidikan ditanggung sebagian oleh adik ayahnya yang ada di Banjarmasin, ''adikku sekarang sudah duduk dibangku kuliah di sebuah universitas di Banjarmasin. Sedangkan ibu kami tidak tahu lagi kabarnya sampai sekarang,'' katanya mengakhiri ceritanya.

Semoga apa dipaparkan oleh penulis dapat menjadi contoh, bahwa dalam kehidupan tidak semua yang buruk itu palsu, ada ketulusan dibalik sebuah kebohongan, karena ingin melindungi kesalahan seseorang, demi kemaslahatan yang lainnya (anaknya), “ Siapa yang menyembunyikan aib seseorang dari orang lain, maka Allah akan menyembunyikan aib miliknya,” Insyaallah. Selama tidak merugikan orang lain.



Opini Terbaru




Bagikan Halaman Ini