Rabu, 12 April 2017, 13:42

Bersama Rasulullah SAW, Mendidik Generasi Idaman

(Teori Pikiran Dr. Fadhl Ilahi 45 pola pengajaran Rasulullah SAW)

Oleh : Huriah, S.Ag (Guru MTs Negeri 2 Tapin)

Mendambakan lahirnya generasi teladan merupakan cita-cita mulia yang diidam-idamkan oleh banyak kalangan umat Islam, utamanya para orang tua, guru atau pendidik. Namun, tidaklah mudah untuk mewujudkan keinginan itu. Terdapat banyak faktor penentu dan penunjang yang harus diperhatikan demi menggapai cita-cita tersebut. Diantara faktor yang paling utama dan menentukan adalah pendidik atau guru. Faktor ini menempati ranking pertama sebelum faktor kurikulum pembelajaran, sarana pendidikan, metode pengajaran, dan faktor-faktor lainnya. Karena seorang guru teladan dalam menciptakan kurikulum, metode, sarana pendidikan sendiri. Di samping itu, selain mengajarkan ilmu pengetahuan, guru teladan juga dapat menanamkan nilai-nilai luhur dan moral spiritual kepada para murid, sehingga dapat melahirkan generasi yang cerdas otaknya, lurus aqidahnya, serta mulia akhlaknya.

Tidak dapat dipungkiri lagi, kunci dan rahasia keberhasilan pendidikan terletak pada guru atau siapa pun yang berperan sebagai pendidik. Gurulah yang telah berperan banyak dalam mewujudkan kesuksesan pribadi murid-muridnya.

Bagaimana pula jika yang menjadi guu adalah Rasulullah? Inilah yang sempurna dan menjadi model pendidikan teladan sepanjang zaman. Tidak akan bisa digantikan oleh metode kreasi manusia apa pun. Tidak quantum teaching dan quantum learning yang merupakan produk impor dari Barat, serta tidak pula teori dan metode pendidikan yang berasal dari Timur. Rasulullah SAW selain mengajarkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, juga mendidik umat Islam dengan aqidah yang benar dan akhlak yang mulia. Bukan itu saja, beliaupun pandai dalam memilih waktu, tempat, metode, dan materi pembelajaran yang sesuai dengan kondisi anak didiknya, sehingga proses belajar mengajar menjadi ideal dan mencapaisasaran yang diinginkan.

Lalu, hasil apa saja yang didapat dari pendidikan Nabi SAW? Lihatlah para alumni madrasah Rasulullah SAW, yakni para sahabatnya yang mulia, dan sungguh tidak akan ada yang dapat menyaingi apalagi menggungguli pribadi mereka. Merka sebaik-baik generasi dimuka bumi dan khairul ummah. Siapakah yang dapat menandingi keimanan dan kedermawanan Abu Bakar as-Siddiq, keadilan Umar bin Khaththab, kemurahan hati Ustman bin Affan, serta kepiawaian dan kecerdasan Ali bin Abi Thalib a.s ? demikian pula terhadap Sahabat-sahabat beliau yang lain.

Seperti itulah yang semestinya menjadi madrasah percontohan dan model pembelajaran bagi umat dewasa ini dan pada masa mendatang. Dengan harapan, hal itu dapat melahirkan model pendidikan modern yang memadukan antara kecerdasan otak dan keluhuran budi pekerti, serta yang menyandingkan teknologi mutakhir dengan kehidupan sosial yang bermartabat.

Melalui artikel ini, kami ingin mencoba mengulas kesimpulan isi kitab yang berjudul An-Nabiyyul Kariim shallallahu alaihi wasallam Mualliman (Bersama Rasulullah SAW mendidik generasi idaman) karangan Dr. Fadhl Ilahi, diterjemahkan Ahmad Yunus yang menjelaskan secara detil 45 pola ajar dan didik yang diajarkan oleh Rasulullah SAW yang sangat pantas diterapkan kepada murid-murid. Kesimpulan pola ajar Rasulullah SAW kita tersebut diantaranya:

Allah SWT mengutus Nabi kita yang mulia SAW sebagai seorang pendidik. Nabi SAW adalah orang yang sangat antusias untuk mengajarkan kebaikan kepada umat manusia. Beliau melakukannya pada setiap waktu dan tempat yang sesuai. Beliau mengajari berbagai elemen masyarakat, laki-laki, perempuan, para pemuda, anak-anak, kerabat, teman-teman, dan para muallaf. Beliau selalu memanfaatkan kesempatan dan momen yang tepat untuk memberikan pelajaran kepada mereka.

Nabi SAW selalu berusaha menarik perhatan murid-muridnya dalam proses belajar mengajar. Beliau berada dekat dengan mereka ketika mengajar, meminta mereka untuk diam, menghadap kearah mereka, dan merekapun menghadap ke arah beliau.

Nabi SAW berusaha menghadirkan kegembiraan pada diri muridnya, membangun kedekatan personal dengan mereka dan menumbuhkan rasa saling mencintai antara beliau dan mereka. Beliau menyambut setiap orang yang datang untuk belajar kepadanya, memanggil murid dengan nama asli atau nama panggilannya, dan melakukan sentuhan fisik, entah berupa tepukan atau sepakan kaki untuk menggugah perhatian mereka.

Nabi SAW selalu berusaha untuk bisa memahamkan murid-muridnya akan ucapan beliau, menjelaskan maksudnya, dan membuatnya meresap didalam benak mereka. Karenanya, beliau memperjelas ucapan beliau secaraperlahan-lahan, mengulang-ulanginya, mempergunakan beberapa isyarat fisik, memberikan ilustrasi bentuk, membuat perumpamaan, serta menggunakan metode perbandingan dan penyebutan bilangan secara definit. Selain itu, beliau juga memberikan pelajaran dengan mencontohkannya secara langsung.

Beliau melibatkan murid-muridnya untuk aktif dalam proses belajar mengajar. Beliau menggunakan metode tanya jawab di tengah-tengah pengajaran.

Nabi SAW menggunakan bahasa kiasan untuk hal-hal yang tidak pantas disebutkan secara verbal. Sekalipun demikian, rasa malu tidak pernah menghalangi beliau untuk mengajarkan sesuatu yang memang harus disampaikan.

Nabi SAW selalu memberikan kesempatan bertanya kepaada sahabat-sahabatnya. Beliau menganjurkan mereka untuk bertanya dan beliau memuji setiap pertanyaan yang berbobot. Adakalanya pula jawaban yang diberikan beliau lebih banyak daripada apa yang ditanyakan kepadanya. Beliau pun pernah memberikan jawaban dalam bentuk penyerupaan dan analogi. Beliau tidak akan menjawab sesuatu yang belum diketahui. Namun, beliau marah atas pertanyaan yang sengaja dilontarkan untuk menyulitkan dan terkesan dipaksakan.

Nabi SAW mengizinkan murid-muridnya untuk bertanya lebih dalam, dalam konteks mengecek kebenaran dan berdiskusi untuk mendapatkan pemahaman yang benar (terhadap suatu masalah). Beliau juga selalu bersikap terbuka untuk diingatkan ketika lupa atau melalaikan sesuatu. Belaiu memberi kesempatan bagi muridnya untuk berbicara dihadapan beliau. Bahkan, secara shahih diriwayatkanbahwa beliau pernah memberikan kesempatan kepada muridnya untuk mengulangi pelajaran dihadapan beliau.

Dalam berinteraksi dengan murid-muridnya, Nabi SAW benar-benar menunjukkan sikap yang sangat tawadhu dan lembut. Bahkan, beliau lebih lebih memperioritaskan mereka daripada diri sendiri dan keluarganya. Sesuai dengan firman Allah SWT, Artinya : Maka disebabkan rahmad dari Allahlah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka... (Q.S. Ali Imran:159). Rasulullah SAW juga bersabda artinya: Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah SWT itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan. Allah memberikan kelembutan yang tidak diberikan pada sifat kekerasan, dan tidak pula pada sifat selainnya. (H.R. Muslim). Dari ayat dan hadist tersebut jelas kita dianjurkan untuk meneladani sikap lemah lembut Nabi SAW terhadap orang yang tidak mengetahuinya, mengajarinya dengan cara yang baik.Hanya saja, beliau akan marah ketika muncul satu kesalahan dari orang yang tidak diharapkan, atau ketika ada kedangkalan pemahaman dari seorang yang dianggap pandai.

Nabi SAW mampu membaca keistemawaan (talenta) tiap-tiap muridnya. Beliau juga selalu memperhatikan kondisi mereka ketika mengajari mereka. Beliau memuliakan sahabat-sahabat yang memiliki keutamaan tertentu. Beliau juga memperhatikan bagaimana respon muridnya terhadap sabda atau perbuatan beliau terhadap mereka. Dan, beliau juga akan merasa kehilangan jika tatkala ada muridnya yang tidak hadir di majelis beliau.

Nabi SAW adalah potret seorang guru yang selalu memberikan kemudahan dan menganjurkan muridnya agar mempelajari sesuatu yang mampu mereka lakukan dengan mudah.

Carut marut dunia pendidikan saat ini menandakan ada sesuatu yang salah dalam sistem pengajaran yang diterapkan selama ini. Kesalahan itu mungkin tidak hanya terkait kurikulum ajar atau perilaku para murid, tetapi bisa jadi justru menyangkut para gurunya, terutama dalam hal pola pengajaran mereka. Sebab diakui atau tidak, banyak sekali guru yang mengajar dengan setengah hati sekedar menunaikan tugas dan kewajiban mengajar semata. Padahal disamping mengajar, seorang guru juga harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anak didiknya.

Dengan mengacu pada pola pengajaran Rasulullah SAW kita berharapsistem pendidikan bisa lebih baik dan mampu mencetak anak didik dan generasi idaman yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, dan berilmu.

Berita Lainnya
Jumat, 7 April 2017, 10:05

Mencari Makna Hidup Agar Lebih Bermakna

Rabu, 5 April 2017, 07:20

Guru Harus Bisa Menjaga Kedudukannya

Senin, 3 April 2017, 15:46

Pekerjaan Profesional, Profesional Dalam Bekerja

Senin, 3 April 2017, 15:36

Reaktualisasi Pendidikan Karakter Bagi Generasi Muda

Jumat, 31 Maret 2017, 13:08

Pendidikan Karekter Berbasis Islam dalam Keluarga Membangun Masyarakat Madani