kalsel.kemenag.go.id




Diunggah tanggal 05-04-2017 00:20:13

Guru Harus Bisa Menjaga Kedudukannya





Oleh : Abdul Halim (Kepala MIN 10 Banjar)

Guru telah mempunyai kedudukan khusus dalam masyarakat,  jauh sejak masa lalu,  sedangkan sepak terjang dan lagak-lagaknya akan membekas dan banyak mewarnai kehidupan sekarang maupun masa yang akan datang. Mereka sering tampil di panggung pembicaraan orang banyak, maupun sebagai berita hangat dalam media masa. Dia juga dapat tampil dalam berbagai wajah, dan diamati dalam berbagai wajahnya pula.

Dalam pandangan masyarakatpun guru memiliki tempat tersendiri. Sehari-hari ia  dikenal sebagai pengajar. Setiap hari ia  pergi ke sekolah / madrasah untuk mengajar siswa- siswanya. Guru diperhatikan masyarakat dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Sebagian masyarakat menganggap jadi guru enak, banyak liburnya, tugasnya masuk pulul 07.30 dan pulangnga 14.30 kerjanya hanya omong-omong dengan anak-anak.

Akan tetapi disisi lain ada pemeo masyarakat yang dikenal dengan ; guru harus dapat digugu dan ditiru dan juga ada istilah Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Dalam pemeo tersebut  tersirat pandangan serta harapan tertentu dari masyarakat terhadap guru. Memang tidak dinyatakan siapa yang harus “menggugu” dan menirunya, apakah terbatas pada sisiswa-siswanya atau berlaku juga untuk seluruh masyarakat. Namun kenyataan menunjukkan manakala seorang guru berbuat kurang senonoh, menyimpang dari ketentuan-ketentuan  atau kaidah-kaidah masyarakat, maka langsung saja masyarakat memberikan suara sumbang kepadanya, bahkan sering pula suara sumbang itu ditujukan  kepada seluruh jajaran guru. Kenakalan anak yang kini merajalela di beberapa tempat, sering pula tanggungjawabnya ditudingkan kepada guru sepenuhnya dan sering dilupakan apa yang didengar dan dilihat anak dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Dalam pandangan seperti itu, sebenarnya guru tidak lagi hanya dipandang sebagai pengajar di kelas, namun  darinya diharapkan pula tampil sebagai pendidik, bukan saja terhadap  anak didiknya di kelas, namun juga sebagai pendidikan di masyarakat yang seyogianya memberikan teladan yang baik kepada seluruh masyarakat. Dalam kedudukan ini ia  kembali tampil  sebagai orang yang harus digugu dan ditiru oleh seluruh masyarakat, sehingga manakala ia berhasil atau dianggap memenuhi harapan masyarakat tersebut, ia menjadi tempat bertanya, tempat terhormat, dan berbagai jabatan dan kedudukan disodorkan kepadanya. Guru seperti  inilah yang seperti dalam pemeo “Guru ratu, wong atawo karo” mendapat penghormatan bahkan melebihi seorang raja.

Atas dasar analisis sepintas, ternyata kedudukan guru tidak hanya terbatas oleh keempat dinding kelasnya di madrasah, melainkan bergeser jauh menembus batas halaman madrasah dan berada langsung di tengah masyarakat. Ia tidak hanyat terlibat dalam pendidikan formal, melainkan juga dalam pendidikan informal dan nonformal. Hal seperti ini kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, lebih-lebih di desa yang merupakan sebagai besar dari wilayah Indonesia. Hampir dalam setiap kesempatan ia diberi peranan sabagai peran utama di masyarakat, bahkan tidak jarang juga ia juga dituntut untuk mengatasi hal-hal yanv mungkin di luar jangkauannya.

Kedudukan seperti mungkin merupakan warisan dari pandangan terhadap guru zaman dahulu, ketika guru dianggap menduduki kedudukan yang sakral yang dianggap dapat menembus kabut rahasia kegaiban. Penggalian ilmu dan penyampaian ilmu saat itu tidak dilaksanakan melalui cara rasional dan terbuka, melainkan tertutup dan penuh rahasia, dan terbatas hanya pada orang-orang yang dipandang dapat mengarungi samudera ilmu yang luas, dalam dan penuh rahasia. Sehingga wajarlah bila orang yang berhasil mendapatkan ilmu dan menduduki guru itu sangat disegani dan dihormati. Akan tetapi kini pengajaran dan pengkajian tidak lagi dilakukan dalam suasana penuh rahasia dan tertutup. Dengan lahirnya susasana demokrasi, setiap orang dianggap layak  dan berhak mendpatkan pendidikan. Hal ini dinyatakan dalam Undang-Undang Dasar 1945 : Pendidikan dan pengajaran terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat dan tidak merupakan hak istimewa  bagi sekelompok masyarakat. Karenanya kedudukan dan pengjhargaan terhadap gurupun menjadi sewajarnya saja lagi.

Jabatan Guru tidak lagi dipandang sebagai jabatan istimewa yang diperuntukkan bagi lapisan masyarakat tertentu saja. Kini guru mendapatkan kedudukan yang sejajar dengan pejabat lain. Lahirnya perundang-undangan dan peraturan Pemerintah yang memacu sekaligus memicu guru untuk menjadi guru yang profesional, berkualitas, berkompetensi dan bersertifikasi. Semoga guru dapat memenuhi haraparan dan tuntutan masyarakat.

Manakala orang mulai menghargai orang lain dengan ukuran  materi, maka gurupun dipandang sebagai pegawai biasa, penerima gaji. Sekiranya guru yang bersangkutan kurang pandai  membawakan dirinya di hadapan siswa-siswanya, khususnya mereka  dari kalangan elite yang di rumahnya  biasa hidup mewah, mungkin ia akan merasa serba salah tingkah. Ia merasa segan  berhadapan dengan orang tua mereka, bahkan kadang dihinggapi rasa rendah diri karena kekurangan dalam bidang materi itu. Keadaan seperti itu dapat mengganggu  kewibawaannya dalam mengemban tugas  tugas sebagai pendidik. Akibatnya ia dihinggapi kompeks rendah diri dan kehilangan wibawanya di depan siswa-siswanya, maka akan makin turun pulalah penilaian orang terhadapnya.

Syukurlah pandangan dan keadaan sedemikian tidak selalu menghantui dunia guru sehingga akan semakin  banyak orang yang dapat menghargai guru. Namun semuanya akan terpulang kepada jati guru itu sendiri  dalam menempatkan dan membawa dirinya dalam mengemban tugas yang mulia ini.



Opini Terbaru




Bagikan Halaman Ini