kalsel.kemenag.go.id



Diunggah tanggal 03-04-2017 08:36:05

Reaktualisasi Pendidikan Karakter Bagi Generasi Muda





Oleh Rahmadi, S. Ag. M. Pd. I (Pendidik MAN Insan Cendekia Tanah Laut)

Mengutip dari makalah Fadillah, M. Pd. dalam Jurnal Cendekia (Jurnal Pendidikan, Humaniora dan Sains) vol. 2, No. 2 edisi terbit September – Desember 2016 beliau mengungkap pernyataan Abu A’ala Al Maududi dalam buku “ethical view point of Islam” mengatakan, “The greatest problem that has confronted man from immemorial is the moral problem, (masalah terbesar yang dihadapi oleh manusia sejak zaman dahulu kala sampai saat ini adalah masalah dekadensi moral),”.

Masalah dekadensi moral memang sudah menjadi permasalahan sejak dahulu hingga sekarang. Dewasa ini dapat kita amati ditengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara, masalah “dekadensi moral” dalam berbagai bidang kehidupan sedang mewabah dan banyak dipertontonkan oleh berbagai media. Baik dalam bidang sosial, hukum, politik dan pemerintahan maupun dalam bidang budaya, seperti tawuran, kasus korupsi, kriminalitas, budaya hipokrit dan lain-lain yang tidak mencermin budaya dan perilaku asli bangsa Indonesia yang kita kenal dengan keramahtamahan, santun dan mempunyai karakter yang mulia.

Dewasa ini karakter bangsa kita dipandang sebelah mata oleh negara lain, bahkan banyak orang-orang Indonesia tidak mau mengakui bahwa dirinya berasal dari Indonesia, mereka malu menjadi orang Indonesia. Hal ini mereka akui karena banyaknya kasus yang terjadi di Indonesia. Mereka takut negara lain memandang mereka berasal dari negara teroris, atau negara para koruptor, negara yang memiliki segalanya tetapi tidak mampu mengolah sumber daya alamnya, negara bodoh, negara penonton, negara majemuk yang masyarakatnya sering ricuh antar etnis, mementingkan diri sendiri dan sukunya tanpa mempedulikan orang lain, kasus korupsi, kolusi dan nepotisme, atau negara yang tidak memiliki kualitas dalam bidang apapun.

Dalam menghadapi era globalisasi, pendidikan sangat diperlukan untuk membangun karakter bangsa. Baik itu dari pendidikan formal, informal maupun non formal. Semua pendidikan intinya adalah membawa perubahan karakter menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Sehubungan dengan hal tersebut, karakter bangsa masih dapat diselamatkan dan ditumbuh kembangkan melalui pembelajaran yang kontinyu. Proses pembelajaran membawa siswa kepada sosok generasi bangsa yang tidak sekedar memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki moral yang mencerminkan nilai-nilai luhur yang tertanam dalam benak siswa. Seiring denga era globalisasi dan kemajuan dunia informasi, bangsa indonesia tengah dilanda krisis nilai-nilai luhur yang menyebabkan martabat bangsa Indonesia dinilai rendah oleh bangsa lain. Oleh karena itu, karakter bangsa Indonesia saat ini perlu dibangun kembali.

Pada jaman sekarang perhatian generasi muda hanya terpusat kepada pembangunan ekonomi dengan orientasi ke fisik. Dengan karakter demikian tak mengherankan apabila di kalangan anak muda tumbuh subur sifat-sifat materialisme, praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) serta berbagai jenis perilaku tidak terpuji lainnya. Selain itu karakter anak muda saat ini sudah abai dari pembangunan kemanusiaan, hal itu dapat kita lihat dari berbagai sisi kehidupan manusia yang selama ini luput dari pembangunan karakter, jiwa dan raga manusia, contohnya banyak terjadi kesenjangan sosial terutama dikota-kota besar, orang yang kaya akan semakin kaya dan orang miskin akan semakin miskin, hal ini disebabkan kurangnya kesadaran  dari kaum-kaum elit untuk membantu orang-orang miskin yang ada disekitarnya.

Dalam dunia pendidikan, keberhasilan pendidikan bukan diukur dari tercapainya target akademis siswa, tetapi lebih kepada proses pembelajaran sehingga dapat memberikan perubahan sikap dan perilaku kepada siswa. Masih banyak guru-guru yang menyatakan bahwa keberhasilan pendidikan hanya diukur dari tercapainya target akademis siswa, karena sebagian mereka mengajar dengan orientasi bahwa siswa harus mendapatkan nilai yang bagus sehingga dapat dianggap siswa atau guru itu telah berhasil melaksanakan pendidikan.

Jika tidak ada pembelajaran dalam pendidikan, maka hasilnya akan seperti sebelumnya, dalam arti kata tidak ada perubahan. Kita menginginkan adanya proses pembelajaran yang dapat memberikan perubahan atau dampak positif pada perilaku dan sikap pelajar kita sehingga mereka tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan secara akademik tetapi mereka dapat membentuk karakter yang kuat bagi dirinya.

Dalam hal ini tentunya pendidikan karakter sangat perlu dikembangkan dan diaktualisasikan kembali ke arah yang lebih bermutu dan baik lagi menuju karakter mulia.

Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggungjawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menetapi janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berfikir positif, disiplin, antisipatif, visioner, bersehaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib, tertb.  Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut.

Pendidikan karakter yang baik adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Guru yang baik adalah guru yang dapat menjadi teladan bagi peserta didiknya, sehingga segala prilaku guru, cara berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana berinteraksi dan bertoleransi, dan sebagainya menjadi contoh yang baik bagi peserta didiknya.

Guru yang baik juga, dapat membentuk individu peserta didiknya menjadi individu yang memiliki karakter yang baik dan unggul. Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negera serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya).

Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga negara yang baik. Oleh karena itu, pendidikan karakter dalam kontek pendidikan di Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda.

Dalam menciptakan dan membangkitkan kembali (reaktualisasi) pendidikan karakter  tersebut, maka diperlukan usaha dan ikhtiar di semua level atau tingkatan.

Pertama,  pendidikan karakter di lingkungan keluarga. Pendidikan karakter di lingkungan keluarga erat hubungan dengan peran orang tua sebagai ujung tombak pendidikan keluarga itu sendiri. Orang tua menjadi tonggak penting dalam penanaman nilai-nilai luhur atau akhlakul karimah. Nilai yang harus ditanamkan dapat dijadikan pegangan yakni nilai-nilai agama. Orang tua bertanggung jawab dalam menanamkan 9 pilar nilai-nilai luhur universal : (1) Cinta Tuhan dan Alam semesta beserta isinya; (2) Tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian; (3) Kejujuran; (4) hormat dan Santun; (5) Kasih Sayang, kepedulian, dan Kerjasama; (6) Percaya Diri, Kreatif, Kerja Keras, dan Pantang Menyerah; (7) Keadilan dan Kepemimpinan; (8) baik dan Rendah Hati; dan (9) Toleransi, Cinta Damai dan Persatuan. Nilai-nilai ini adalah nilai luhur agama yang secara universal benar adanya. Orang tua harus menjadi suri tauladan, karena apa yang dilakukan oleh orang tua menjadi contoh dan aacuan oleh anaknya. Tidak cukup dengan menyuruh secara lisan tetapi sikap dan prilaku kita harus sesuai dengan nilai-nilai agama.

Pendidikan karakter di lingkungan keluarga ini menjadi core dalam pendidikan yang lebih luas lagi, dan ini dibangun dengan keteladanan dari orang tua maupun orang dewasa.

Kedua, pendidikan karakter di lingkungan masyarakat. Lingkungan masyarakat menjadi sesuatu yang sangat penting dalam implementasi pendidikan karakter. Lingkungan masyarakat yang baik akan cukup memberikan pengaruh positif dalam membentuk karakter masyarakat  itu sendiri. Demikian juga, lingkungan masyarakat yang tidak baik akan cukup memberikan pengaruh negatif bagi perkembangan pribadi anggota masyarakat tersebut.

Lingkungan masyarakat sekarang bukan saja lingkungan yang terdiri dari anggota masyarakat, akan tetapi lingkungan yang di dalamnnya media informasi, cetak maupun elektronik, pemberitaan maupun film dan sinetron cukup memberikan andil besar dalam pembentukan karakter individu masyarakat itu sendiri, bahkan media ini sangat signifikan dalam merubah prilaku dan moral masyarakat. Ketika anak disuruh oleh orangtuanya mengerjakan sesuatu, maka apa yang ada dibenaknya tentu hal ini imbas dari pengalamannya ketika ia melihat contoh yang ada di sinetron yang membentak orangtuanya.

Ketiga, pendidikan karakter di lingkungan sekolah. Kemampuan orang tua sangatlah terbatas sehingga mendorong menitipkan anaknya untuk didik oleh orang lain di lembaga pendidikan. Sekolah menjadi solusi alternatif bagi orang tua untuk mendidik anaknya. Sekolah merupakan lingkungan kedua setelah keluarga guru, staf dan semua stakehorlde-nya yang akan menentukan berhasil atau tidaknya pendidikan.

Pendidikan karakter yang ada di lingkungan sekolah bukan hanya terfokus pada pemberian ilmu atau transfer ilmu pengetahuan saja akan tetapi menekankan kepada implementasi dalam kehidupan sehari-hari selama berada di lingkungan sekolah. Sikap ramah, santun, gotong royong, peduli, toleransi dan lain sebagainya harus tergambar dalam sikap keseharian anak-anak didik.

Dalam penerapan pendidikan karakter di sekolah harus didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut : (1) mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter (character basic); (2) mengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaaan, dan prilaku; (3) menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian; (4) memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka, dan membantu mereka untuk sukses; (6) mengusahakan tumbuhnya motivasi diri pada peserta didik; (7) memfungsikan seluruh staf sekolah/madrasah  sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nila dasar yang sama; (8) adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter tersebut; (9) memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter; (10) mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru-guru karakter dan manifestasi karakter positif dalam kehidupan peserta didik. (Kemendiknas : 2010).

Sehingga menurut Jamal Ma’mur dalam “Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakater di Sekolah”,  pendidikan karakter di sekolah dapat dioptimalkan melalui 3 (tiga) cara. Pertama,  pendidikan karakter yang terpadu pada pembelajaran. Hal ini dapat memberikan pengenalan dan penerapan tentang nilai-nilai, sehingga timbul kesadaran yang utuh terhadap nilai-nilai tersebut. Kedua, pendidikan karakter terpadu pada manajemen sekolah. Manajemen sekolah yang mengacu pada manajemen berbasis mutu, tentunya sangat mengedepankan pendidikan karakter ini. Manajemen yang diterapkan dalam pendidikan karakter harus bersifat partisipatif, demikratis, elabolatif, dan eksploratif sehingga semua pihak merasakan kemajuan secara signifikan. Ketiga, pendidikan karakter secara terpadu melalui kegiatan ekstrakurikuler (ekskul). Kegiatan ekskul selama ini dipandang sebelah mata, hanya sebagai pelengkap kegiatan intra kurikuler. Padahal, jika kegiatan ekstra ini di desain secara profesiona maka akan menjadi wahana efektif pembentukan karakkter berbasis potensi diri (Jamal :  2011).

Kontek generasi muda sebagai ujung tombak pelaku sekaligus sasaran dari pendidikan karakter ini tentunya sangat penting. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, antara lain : (1) seorang generasi muda harus menjadi pelopor dalam pendidikan karakter tersebut, bukan sebaliknya menjadi penghalang; (2) seorang generasi muda menjadi motivator bagi orang lain dalam pendidikan karakter tersebut; (3) seorang generasi muda menjadi penggagas (inisiator) adanya lembaga pendidikan karakter yang ada di masyarakat.

Dengan demikian, generasi muda benar-benar menjadi estafet  kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman, damai dan sejahtera. Wallahu a’lam Bish shawwab.



Opini Terbaru




Bagikan Halaman Ini